Senin, 30 Mei 2016

Ngopo Neng Kamar Wae

Ketika saya masih berstatus mahasiswa di Yogyakarta, dan asyik membolak-balik majalah, seorang kawan sebelah kamar kos berkali-kali mengajak saya pergi ke sebuah tempat hiburan. “Ngopo neng kamar wae? Ayo melu neng *****. Aku bayari. Beres pokoke,” katanya dengan aksen Jawa-Semarang yang kental, dan gemar berkelana ke tempat-tempat hiburan di Yogyakarta seperti halnya ketika masih di Semarang.

Semasa berstatus mahasiswa, saya selalu memiliki waktu untuk sendiri di kamar kos, bersama kawan-kawan se-indekosan, atau berkegiatan di pers mahasiswa tingkat fakultas, bahkan kemudian tingkat universitas. Pada saat seorang diri dalam kamar kos, saya pun selalu memanfaatkan waktu untuk ‘mendalami’ hal-hal yang tidak pernah ada dalam bidang studi saya. Situasi semacam ini tentu saja bisa diamati oleh rekan indekosan kami sehingga wajar jika seorang kawan ngotot mengajak saya berkelana ke tempat hiburan.

Saya memang ‘gila’ belajar beberapa hal di luar bidang studi saya sebagai mahasiswa jurusan (kini program studi) Arsitektur. Dunia gambar-menggambar adalah awal yang saya tekuni sejak balita. Yogyakarta membuka kesempatan lebih luas bagi saya, termasuk aktif di majalah sekolah ketika berstatus pelajar SMA, dan majalah kampus ketika berstatus mahasiswa. Juga mendalami bidang gambar-menggambar (seni rupa) di Bandung selama tiga bulan non-stop.

Lalu dunia tulis-menulis, yang tentunya ketika aktif di majalah sekolah dan kampus. Selain itu, saya rajin mengikuti seminar, bahkan sekadar ngobrol dalam forum non-formal dengan tokoh-tokoh tertentu, termasuk tokoh nasional yang tengah ‘dikucilkan’ oleh rezim ORBA. Tentu saja, meski jumlah uang bulanan dari orangtua tidak banyak (jauh dibanding kawan kos saya itu sehingga dia berani “membayari” saya untuk menemaninya ke dunia hiburan), saya rutin membeli majalah dengan harga mahasiswa di kampus supaya bisa mengikuti ‘pembicaraan’ mengenai perkembangan dunia sosial-politik ketika itu.

Kemudian, untuk menguji tingkat kemampuan pembelajaran saya, beberapa perlombaan pun saya ikuti. Lomba kartun opini, karikatur, gambar kaus oblong, menulis cerpen, opini, esai, dan lain-lain. Sementara kawan saya itu tekun menikmati dunia hiburan hingga pernah ditangkap polisi gara-gara benda semacam narkoba, bahkan akhirnya pikirannya tidak mampu menyelesaikan kuliahnya.

Ketika bukan lagi seorang mahasiswa, saya masih setia dengan apa yang pernah saya tekuni. Tentu saja, menjadi seorang arsitek sungguhan merupakan kesadaran saya, sekaligus menjadi anggota dalam organisasi keprofesian saya. Bagi saya, menjadi arsitek tetaplah nomor satu dan utama. Sedangkan menjadi kartunis-karikaturis, ilustrator, apalagi penulis-sastrawan, bukanlah profesi ‘lain’ yang perlu saya tekuni sampai habis-habisan rambut saya.

Mungkin, kalau bertemu lagi dengan kawan saya, dia bisa berujar, “Ngopo dadi arsitek wae? Mbok yao bisnis hiburan malam utawa narkoba, iso luwih sugih meneh.” Semoga kelak bertemu di suatu tempat hiburan di Semarang, kalau saya sudah kaya-raya dan suka berfoya-foya.  

*******
Panggung Renung, 2016