Ketika saya masih
berstatus mahasiswa di Yogyakarta, dan asyik membolak-balik majalah, seorang
kawan sebelah kamar kos berkali-kali mengajak saya pergi ke sebuah tempat
hiburan. “Ngopo neng kamar wae? Ayo melu neng *****. Aku bayari. Beres pokoke,” katanya
dengan aksen Jawa-Semarang yang kental, dan gemar berkelana ke tempat-tempat
hiburan di Yogyakarta seperti halnya ketika masih di Semarang.
Semasa berstatus
mahasiswa, saya selalu memiliki waktu untuk sendiri di kamar kos, bersama kawan-kawan
se-indekosan, atau berkegiatan di pers mahasiswa tingkat fakultas, bahkan
kemudian tingkat universitas. Pada saat seorang diri dalam kamar kos, saya pun
selalu memanfaatkan waktu untuk ‘mendalami’ hal-hal yang tidak pernah ada dalam
bidang studi saya. Situasi semacam ini tentu saja bisa diamati oleh rekan
indekosan kami sehingga wajar jika seorang kawan ngotot mengajak saya berkelana
ke tempat hiburan.
Saya memang ‘gila’
belajar beberapa hal di luar bidang studi saya sebagai mahasiswa jurusan (kini
program studi) Arsitektur. Dunia gambar-menggambar adalah awal yang saya tekuni
sejak balita. Yogyakarta membuka kesempatan lebih luas bagi saya, termasuk
aktif di majalah sekolah ketika berstatus pelajar SMA, dan majalah kampus
ketika berstatus mahasiswa. Juga mendalami bidang gambar-menggambar (seni rupa)
di Bandung selama tiga bulan non-stop.
Lalu dunia
tulis-menulis, yang tentunya ketika aktif di majalah sekolah dan kampus. Selain
itu, saya rajin mengikuti seminar, bahkan sekadar ngobrol dalam forum
non-formal dengan tokoh-tokoh tertentu, termasuk tokoh nasional yang tengah
‘dikucilkan’ oleh rezim ORBA. Tentu saja, meski jumlah uang bulanan dari
orangtua tidak banyak (jauh dibanding kawan kos saya itu sehingga dia berani
“membayari” saya untuk menemaninya ke dunia hiburan), saya rutin membeli
majalah dengan harga mahasiswa di kampus supaya bisa mengikuti ‘pembicaraan’
mengenai perkembangan dunia sosial-politik ketika itu.
Kemudian, untuk
menguji tingkat kemampuan pembelajaran saya, beberapa perlombaan pun saya
ikuti. Lomba kartun opini, karikatur, gambar kaus oblong, menulis cerpen,
opini, esai, dan lain-lain. Sementara kawan saya itu tekun menikmati dunia
hiburan hingga pernah ditangkap polisi gara-gara benda semacam narkoba, bahkan
akhirnya pikirannya tidak mampu menyelesaikan kuliahnya.
Ketika bukan lagi
seorang mahasiswa, saya masih setia dengan apa yang pernah saya tekuni. Tentu
saja, menjadi seorang arsitek sungguhan merupakan kesadaran saya, sekaligus
menjadi anggota dalam organisasi keprofesian saya. Bagi saya, menjadi arsitek
tetaplah nomor satu dan utama. Sedangkan menjadi kartunis-karikaturis,
ilustrator, apalagi penulis-sastrawan, bukanlah profesi ‘lain’ yang perlu saya
tekuni sampai habis-habisan rambut saya.
Mungkin, kalau
bertemu lagi dengan kawan saya, dia bisa berujar, “Ngopo dadi arsitek wae? Mbok yao bisnis hiburan malam utawa narkoba,
iso luwih sugih meneh.” Semoga kelak bertemu di suatu tempat hiburan di
Semarang, kalau saya sudah kaya-raya dan suka berfoya-foya.
*******
Panggung Renung, 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar