Saya pernah,
beberapa kali, dikomplain oleh sebagian kawan, bahwasannya saya belum
benar-benar menulis seputar dunia arsitektur, minimal arsitektur di sekitar
(terdekat) saya. Selama ini, komplain mereka, saya hanya berputar-putar di
sekitar pusar, eh, sekitar dunia luar arsitektur, padahal banyak bangunan di
sekitar saya mampu memberi inspirasi kepenulisan.
Kalau sudah begitu,
pasti saya langsung mengalami kesulitan berkilah. Komplain mereka telak
menampar saya. Gawat tenan iki!
Diam-diam saya
berpikir, bagaimana kalau komplain tersebut ditujukan kepada para dosen
arsitektur sehingga bisa lebih jelas-jeli bahan rujukannya, dapat
dipertanggungjawabkan secara teoritis, dan sesuai dengan sebutan “problem
solver” dalam arsitektur praktis. Saya pikir, pikiran saya tidaklah keliru
sasaran.
Diam-diam mereka
pun berpikir bahwa pikiran saya keliru jika merupakan sebuah upaya melarikan
diri dari kenyataan nan tantangan. Meski bukan dosen, seorang arsitek sebagai
praktisi seharusnya mampu menyampaikan pemikiran alternatif dalam realitas
praktis arsitektural yang faktual di sekitar. Tinggal di suatu wilayah yang
padat rumah tetapi, sayangnya, tidak pernah diulas dengan bahasa arsitektur
yang popular, bagaimana ini?
Aduh, kalau
diteruskan, bisa lebih kencang tamparan mereka. Salah saya di mana apabila saya belum juga
menulis seputar dunia arsitektur, ya?
Jelas salah bahkan
memakai kata “banget”, jawab mereka. Berani menulis ini-itu di luar profesi
sendiri, kok malah takut menulis seputar bidang studi sendiri? Padahal di
sekitar diri jelas terpampang kebopengan wajah arsitektur akibat kecenderungan
melakukan pembiaran terhadap pemikiran para bukan arsitek yang sama sekali
merancang tanpa kriteria mumpuni-relevansif untuk bangunan-bangunan di sekitar,
terlebih rumah-rumah penduduk yang coreng-moreng dalam konsep perancangan dan
wujudnya.
Sungguh,
kawan-kawan saya itu tanpa tedeng-aling menampar saya bolak-balik. Saya tidak
pernah menjadi asisten apalagi dosen Arsitektur. Saya tidak memiliki buku-buku
teori Arsitektur yang memadai. Kalaupun ada, saya rasa, masih kurang optimal.
Rekan-rekan arsitek, atau yang ketika mahasiswa sering menjadi asisten dosen
Arsitektur, pun kini cenderung lebih sering berkutat dengan rancang-merancang,
bukannya tulis-menulis seputar dunia arsitektur. Lha, mengapa harus saya, sih?
Biarkan saja mereka
berkubang dalam garis-menggaris, begitu selanjutnya komplain kawan-kawan. Mereka
lebih mementingkan garis aliran profit ke rekening daripada mementingkan
kepekaan mewadahi seluruh komponen manusia tanpa terkontaminasi kepentingan
profit yang sangat tidak arsitektural itu.
Terus terang, saya
kewalahan menghadapi komplain kawan-kawan saya itu. Saya bisa saja melakukan
komplain balik dengan menyebutkan nilai akademis dan status kelulusan dalam
ijazah saya agar bisa menjadi bahan pertimbangan atas komplain-komplain
lainnya. Saya bisa saja bertamengkan ijazah yang tanpa predikat “Cum Laude”
itu, sementara lulusan terbaik pun hanya mendiamkan realitas di sekitar.
Biarkan saja para
cumlauder dan lulusan terbaik itu sibuk dengan kepentingan mereka sendiri karena
sejak kuliah pun mereka berusaha keras meraih nilai terbaik hanya demi prestasi
diri mereka sendiri, bukannya demi kebaikan bertempat tinggal atau berfasilitas
perwadahan optimal bagi seluruh lapisan masyarakat. Egoisitas kalangan cerdas
semacam mereka merupakan upaya kontra-humanisme. Lagi-lagi begitu komplain
kawan-kawan.
Saya menduga,
komplain kawan-kawan sudah berkecenderungan sebagai penghakiman yang
sewenang-wenang. Sebab, menurut dugaan saya, siapa pun sah-sah saja memiliki
kepentingan pribadi di antara simpang-siur kepentingan banyak orang.
Kawan-kawan tidaklah sepatutnya menuntut saya terlibat dalam silang-sengkarut
kepentingan melalui penghakiman semacam itu.
Tidak perlulah
menduga sampai ke ranah penghakiman ditimpa lagi dengan sewenang-wenang,
komplain kawan-kawan lagi. Pembiaran para arsitek mumpuni bukanlah persoalan
yang bersifat darurat untuk dipikirkan. Persoalannya adalah siapa lagi yang
bisa memberi sedikit pencerahan.
Lho, kalau “siapa
lagi”, ya, tentulah bukanlah cuma saya, ‘kan? Sebaiknya kawan-kawan lebih
bersabar lagi untuk memberi kesempatan kepada para arsitek yang benar-benar
cerdas, dan memiliki kualitas berpikir kritis jauh melampaui saya. Saya tidak
memiliki prestasi apa-apa di bidang studi saya sendiri.
Nah ini, “tidak
memiliki prestasi apa-apa”, tambah komplain kawan-kawan. Skripsi dan ijazah itu
suatu prestasi. Selanjutnya, kesukaan menggauli tulisan pun tidak kunjung
henti. Tetapi kembali lagi ke awal, kapan mulai menulis seputar dunia
arsitektur. Buku-buku karya tunggal yang terbit malah tidak ada yang murni
berisi arsitektur. Cerpen kurang greget, puisi cinta basi, esai sepele, bahkan
gombal tidak karuan itu. Mana buku berisi tulisan seputar dunia arsitektur?
Baiklah, baiklah.
Beri saya waktu untuk memulainya, meski entah berapa tahun lagi, karena saya
akan terus memberi kesempatan rekan-rekan arsitek untuk memulainya dengan rajin
dan benar-benar bisa dipahami oleh masyarakat umum. Sabar, ya, kawan-kawan?
*******
Panggung Renung,
2016