Ketika saya
mengkritisi perihal Reklamasi Teluk Jakarta, baik melalui media sosial maupun
tulisan ringan, beberapa orang ‘menyerang’ saya karena ‘menuduh’ saya ‘menyerang’
Gubernur Ahok calon petahana jelang Pilkada DKI Jakarta. Kenapa baru ribut sekarang; kenapa
tidak sejak dulu.
Sebagian mereka pun
mengira saya baru sekarang mengikuti perkembangan dunia politik atau apalah
itu. Kenapa baru ribut sekarang; ke mana saja dulunya. Arsitek kok ngomongin politik; ikut arus
politik bikinan politisi yang dijerat KPK.
Saya mengenal
sebagian dari mereka, yang ‘menyerang’ saya, baik secara jujur-terang-terangan
maupun diam-diam seolah para kecoak yang bergosip dalam kakus. Mayoritas mereka
adalah orang muda (belum 60 tahun). Dan saya mengenal mereka bukanlah para
pembelajar atau pembaca buku-buku politik, misalnya Dasar-dasar Ilmu Politik, Etika
Politik, Ilmu Negara, Negara Modern, dan seterusnya, apalagi Di Bawah Bendera Revolusi yang tebal itu
karena memang bukanlah bidang studi mereka ketika kuliah.
Saya ‘terpaksa’
memaklumi kapasitas mereka dan kemajuan teknologi masa kini. Dengan tanpa
kepekaan mumpuni ketika membaca tulisan-tulisan saya, kecenderungan menuduh
arah politik saya pun begitu menurut mereka. Makanya, pemikiran saya mengenai
Reklamasi Teluk Jakarta pun ‘digugat’
mereka secara serentak, “Kenapa baru
sekarang; kenapa tidak sejak dulu.”
Kenapa baru sekarang; kenapa
tidak sejak dulu. Ya, saya pun bisa membalikkannya, kenapa mereka baru sekarang mengikuti perkembangan politik, kenapa
tidak sejak dulu.
Dulu, sebelum
munculnya agresivitas teknologi mutakhir, mereka tenggelam entah di mana.
Kenapa baru sekarang mereka muncul bahkan menyerang saya? Ya, karena sudah
‘kering’, dan ‘suara’ mereka renyah seperti kerupuk baru diangkat dari
penggorengan. Kualitas ‘suara’ mereka sama dengan kerupuk juga.
Situasi tidak
berbeda dengan pertanyaan sebagian orang. Kenapa
menggusurnya baru sekarang; kenapa tidak sejak dulu. Kenapa sekarang
melarang tinggal di Pasar Ikan; kenapa tidak dari dulu. Apa kira-kira
jawabannya? Karena tanah Pemerintah, bukannya tanah milik siapa-siapa? Lho,
dulunya ke mana, wong ya barusan koar-koarnya pernah menjadi wakil rakyat
tingkat nasional?
Tetapi, menurut
saya, kenapa sekarang dan kenapa tidak
dulu, merupakan sebuah ‘gugatan’ yang tidak realistis alias tidak kekinian.
Toh mereka juga dulu melempem kayak kerupuk tercebur di Teluk Jakarta. Ketika
saya aktif bersosial-politik bersama kawan-kawan Fisip, toh para .penggugat’
itu masih aktif dengan diri mereka sendiri, misalnya hedonis-materialistis.
Sebagian juga ternyata berlatar keluarga dari kroni ORBA, yang menikmati
kemakmuran dari oportunitas politik ketika itu.
Sebagian dari
mereka mencoba membuat sebuah tulisan semacam opini. Tetapi, sungguh
menyedihkan. Lho, menyedihkan? Hal paling sepele pun tidak dikuasai! Apa itu?
Perbedaan kata “di” sebagaimana fungsinya. Hal sepele saja tidak mampu
dipahami, apalagi berpikir lagi soal reklamasi, lingkungan hidup, politik, kepentingan
terselubung, trik-intrik politik, strategi, dan seterusnya.
Dulu waktu SD sibuk
makan kerupuk ataukah tidak suka pelajaran Bahasa Indonesia, ya? Lha bagaimana
kalau belajar lagi mengenai hal-hal yang bukan di bidangnya, misalnya membaca
buku-buku politik? Sudah begitu kok nekat ‘menggugat’ saya, sih? Bahayanya
kalau mereka ‘menggugat’ lagi, kenapa
buaya tidak doyan kerupuk semacam mereka. Alamak!
Lebih parah lagi,
sebagiannya hanya mampu melakukan salin-tempel (copy-paste). Tidak mampu menuliskan pemikiran memadai tetapi pamer
dengan aktivitas salin-tempel. Padahal mereka sudah sarjana lho. Ah, sarjana
macam apa itu kalau hanya mampu melakukan salin-tempel? Memalukan dunia
pendidikan tinggi saja karena murid Sd pun sudah mampu melakukan salin-tempel.
Begitu kok masih nekat ‘menyerang’ saya, sih?
Oleh karenanya, menurut
saya, gugatan kaum pemikir kelas kerupuk pada kalimat ‘kenapa baru sekarang; kenapa tidak sejak dulu’, sangatlah tidak
relevan untuk suatu situasi politik mutakhir apalagi ‘dipaksakan’ untuk
‘melawan’ pemikiran saya, meski saya tidak pernah berprestasi ketika SD sampai
jadi sarjana. Tidak perlu juga menyamakannya dengan pertanyaan usang, “duluan
mana antara ayam dan telur”. Lebih baik mereka makan kerupuk saja seperti dulu
supaya ‘suara’ mereka bisa riuh-renyah pada situasi sekarang.
*******
Panggung Renung,
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar