Rabu, 01 Juni 2016

Reklamasi Teluk Jakarta : Kenapa Ributnya Baru Sekarang

Ketika saya mengkritisi perihal Reklamasi Teluk Jakarta, baik melalui media sosial maupun tulisan ringan, beberapa orang ‘menyerang’ saya karena ‘menuduh’ saya ‘menyerang’ Gubernur Ahok calon petahana jelang Pilkada DKI Jakarta. Kenapa baru ribut sekarang; kenapa tidak sejak dulu.

Sebagian mereka pun mengira saya baru sekarang mengikuti perkembangan dunia politik atau apalah itu. Kenapa baru ribut sekarang; ke mana saja dulunya. Arsitek kok ngomongin politik; ikut arus politik bikinan politisi yang dijerat KPK.

Saya mengenal sebagian dari mereka, yang ‘menyerang’ saya, baik secara jujur-terang-terangan maupun diam-diam seolah para kecoak yang bergosip dalam kakus. Mayoritas mereka adalah orang muda (belum 60 tahun). Dan saya mengenal mereka bukanlah para pembelajar atau pembaca buku-buku politik, misalnya Dasar-dasar Ilmu Politik, Etika Politik, Ilmu Negara, Negara Modern, dan seterusnya, apalagi Di Bawah Bendera Revolusi yang tebal itu karena memang bukanlah bidang studi mereka ketika kuliah.

Saya ‘terpaksa’ memaklumi kapasitas mereka dan kemajuan teknologi masa kini. Dengan tanpa kepekaan mumpuni ketika membaca tulisan-tulisan saya, kecenderungan menuduh arah politik saya pun begitu menurut mereka. Makanya, pemikiran saya mengenai Reklamasi  Teluk Jakarta pun ‘digugat’ mereka secara serentak, “Kenapa baru sekarang; kenapa tidak sejak dulu.”

Kenapa baru sekarang; kenapa tidak sejak dulu. Ya, saya pun bisa membalikkannya, kenapa mereka baru sekarang mengikuti perkembangan politik, kenapa tidak sejak dulu.

Dulu, sebelum munculnya agresivitas teknologi mutakhir, mereka tenggelam entah di mana. Kenapa baru sekarang mereka muncul bahkan menyerang saya? Ya, karena sudah ‘kering’, dan ‘suara’ mereka renyah seperti kerupuk baru diangkat dari penggorengan. Kualitas ‘suara’ mereka sama dengan kerupuk juga.

Situasi tidak berbeda dengan pertanyaan sebagian orang. Kenapa menggusurnya baru sekarang; kenapa tidak sejak dulu. Kenapa sekarang melarang tinggal di Pasar Ikan; kenapa tidak dari dulu. Apa kira-kira jawabannya? Karena tanah Pemerintah, bukannya tanah milik siapa-siapa? Lho, dulunya ke mana, wong ya barusan koar-koarnya pernah menjadi wakil rakyat tingkat nasional?

Tetapi, menurut saya, kenapa sekarang dan kenapa tidak dulu, merupakan sebuah ‘gugatan’ yang tidak realistis alias tidak kekinian. Toh mereka juga dulu melempem kayak kerupuk tercebur di Teluk Jakarta. Ketika saya aktif bersosial-politik bersama kawan-kawan Fisip, toh para .penggugat’ itu masih aktif dengan diri mereka sendiri, misalnya hedonis-materialistis. Sebagian juga ternyata berlatar keluarga dari kroni ORBA, yang menikmati kemakmuran dari oportunitas politik ketika itu.

Sebagian dari mereka mencoba membuat sebuah tulisan semacam opini. Tetapi, sungguh menyedihkan. Lho, menyedihkan? Hal paling sepele pun tidak dikuasai! Apa itu? Perbedaan kata “di” sebagaimana fungsinya. Hal sepele saja tidak mampu dipahami, apalagi berpikir lagi soal reklamasi, lingkungan hidup, politik, kepentingan terselubung, trik-intrik politik, strategi, dan seterusnya.

Dulu waktu SD sibuk makan kerupuk ataukah tidak suka pelajaran Bahasa Indonesia, ya? Lha bagaimana kalau belajar lagi mengenai hal-hal yang bukan di bidangnya, misalnya membaca buku-buku politik? Sudah begitu kok nekat ‘menggugat’ saya, sih? Bahayanya kalau mereka ‘menggugat’ lagi, kenapa buaya tidak doyan kerupuk semacam mereka. Alamak!

Lebih parah lagi, sebagiannya hanya mampu melakukan salin-tempel (copy-paste). Tidak mampu menuliskan pemikiran memadai tetapi pamer dengan aktivitas salin-tempel. Padahal mereka sudah sarjana lho. Ah, sarjana macam apa itu kalau hanya mampu melakukan salin-tempel? Memalukan dunia pendidikan tinggi saja karena murid Sd pun sudah mampu melakukan salin-tempel. Begitu kok masih nekat ‘menyerang’ saya, sih?

Oleh karenanya, menurut saya, gugatan kaum pemikir kelas kerupuk pada kalimat ‘kenapa baru sekarang; kenapa tidak sejak dulu’, sangatlah tidak relevan untuk suatu situasi politik mutakhir apalagi ‘dipaksakan’ untuk ‘melawan’ pemikiran saya, meski saya tidak pernah berprestasi ketika SD sampai jadi sarjana. Tidak perlu juga menyamakannya dengan pertanyaan usang, “duluan mana antara ayam dan telur”. Lebih baik mereka makan kerupuk saja seperti dulu supaya ‘suara’ mereka bisa riuh-renyah pada situasi sekarang.

*******

Panggung Renung, 2016 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar