Tinggi 160 dan
berat 80, atau tinggi 170 dan berat 90, boleh dikategorikan gendut. Gemuk
banget, gembrot, gendut, buncit, tambun, “gajah bengkak”, dan sejenis kelebihan
berat badan yang jauh melampaui angka wajar atau malah obesitas adalah suatu
kondisi fisik yang dialami oleh sebagian orang.
Sebagian orang yang
mengalami hal fisik demikian cenderung selalu ngeri bahkan panik melihat
dirinya sendiri di depan cermin, kaca-kaca raksasa pada bangunan-bangunan
moderen, dan penimbang badan. Tidak
jarang benda-benda itu bisa divonis sebagai musuh bebuyutan bagi kalangan ini.
Kalangan pengidap kelebihan
berat badan ini pun mendadak mengalami sensitivitas melampaui batas kewajaran
apabila ada obrolan ‘agak miring’ mengenai hal fisikal sekitar itu. Lantas,
jangankan benda-benda tertentu yang digolongkan sebagai ‘musuh’, iklan-iklan yang
menayangkan tubuh ramping-langsing atau orang-orang di sekitar–apalagi yang
ramping-langsing pun–diam -diam dijerumuskan ke daftar musuh bebuyutan.
Ironisnya,
sensitivitas rivalisme pun berbanding lurus sensitivitas lidah (nafsu makan). Belum
selesai “bmemusuhi”, diperkeruh lagi dengan keinginan makan melampaui batas
setelah menyaksikan penayangan berita, iklan, atau perjalanan dengan sebutan
“wisata kuliner” yang belum pernah dilakoni.
Sudah begitu, masih
ditambah dengan faktor kemalasan. Malas berolah raga; malas mengekang
lidah-mulut; malas mendisiplinkan diri; malas menghitung asupan kalori; dan
kemalasan-kemalasan lainnya. Ironisnya, kemalasan yang berlemak-lemak ini
selalu ‘dibentengi’ dengan slogan “yang penting sehat”.
Sebenarnya tidaklah
sehat, minimal sehat kejiwaan. Sensitivitas yang over dosis, misalnya memusuhi
benda-benda tertentu, bukanlah suatu relevansivitas terhadap kata “sehat” yang
sesungguhnya. Sensitivitas lidah-mulut terhadap makanan berkalori tinggi pun
bukanlah suatu relevansivitas terhadap kata “sehat” yang sesungguhnya. Hal
tersebut justru sebaliknya : tidak sehat jiwani-ragawi.
Kelebihan berat
badan melampaui batas kewajaran, diakui atau tidak, merupakan sebuah kegagalan
dalam pengendalian diri (nafsu makan; rayuan lidah). Untuk bisa sampai pada
taraf “pengendalian diri”, seorang gembrot harus menyadari bahwa gembrot itu
justru membuat dirinya sendiri sangat tidak menarik. Artinya, dia harus
berdamai dengan dirinya sendiri melalui kesadaran atas fisiknya sendiri. Dengan
kesadaran ini dia bisa berpikir, bagaimana supaya dirinya pun tertarik melihat
dirinya sendiri.
Sadar pula bahwa
tubuh bukanlah tempat sampah. Semua makanan boleh dimakan tetapi tidak semua
harus dimakan apalagi sampai habis.
Setelah itu,
mau-tidak mau, kesadaran akan beranjak ke tahap antisipasif dirinya terhadap ketidaktertarikan
pada dirinya sendiri. Dengan apa, kalau bukan dengan pengendalian diri. Kesadaran
memudahkan proses pengendalian diri. Pengendalian
diri akan memudahkan untuk mengekang selera rakus yang cenderung gagal urus.
Begitu saja
kira-kira.
*******
Panggung Renung, 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar