Rabu, 01 Juni 2016

Kegemukan itu Mengerikan

Tinggi 160 dan berat 80, atau tinggi 170 dan berat 90, boleh dikategorikan gendut. Gemuk banget, gembrot, gendut, buncit, tambun, “gajah bengkak”, dan sejenis kelebihan berat badan yang jauh melampaui angka wajar atau malah obesitas adalah suatu kondisi fisik yang dialami oleh sebagian orang.

Sebagian orang yang mengalami hal fisik demikian cenderung selalu ngeri bahkan panik melihat dirinya sendiri di depan cermin, kaca-kaca raksasa pada bangunan-bangunan moderen, dan penimbang badan.  Tidak jarang benda-benda itu bisa divonis sebagai musuh bebuyutan bagi kalangan ini.

Kalangan pengidap kelebihan berat badan ini pun mendadak mengalami sensitivitas melampaui batas kewajaran apabila ada obrolan ‘agak miring’ mengenai hal fisikal sekitar itu. Lantas, jangankan benda-benda tertentu yang digolongkan sebagai ‘musuh’, iklan-iklan yang menayangkan tubuh ramping-langsing atau orang-orang di sekitar–apalagi yang ramping-langsing pun–diam -diam dijerumuskan ke daftar musuh bebuyutan.

Ironisnya, sensitivitas rivalisme pun berbanding lurus sensitivitas lidah (nafsu makan). Belum selesai “bmemusuhi”, diperkeruh lagi dengan keinginan makan melampaui batas setelah menyaksikan penayangan berita, iklan, atau perjalanan dengan sebutan “wisata kuliner” yang belum pernah dilakoni.

Sudah begitu, masih ditambah dengan faktor kemalasan. Malas berolah raga; malas mengekang lidah-mulut; malas mendisiplinkan diri; malas menghitung asupan kalori; dan kemalasan-kemalasan lainnya. Ironisnya, kemalasan yang berlemak-lemak ini selalu ‘dibentengi’ dengan slogan “yang penting sehat”.

Sebenarnya tidaklah sehat, minimal sehat kejiwaan. Sensitivitas yang over dosis, misalnya memusuhi benda-benda tertentu, bukanlah suatu relevansivitas terhadap kata “sehat” yang sesungguhnya. Sensitivitas lidah-mulut terhadap makanan berkalori tinggi pun bukanlah suatu relevansivitas terhadap kata “sehat” yang sesungguhnya. Hal tersebut justru sebaliknya : tidak sehat jiwani-ragawi.

Kelebihan berat badan melampaui batas kewajaran, diakui atau tidak, merupakan sebuah kegagalan dalam pengendalian diri (nafsu makan; rayuan lidah). Untuk bisa sampai pada taraf “pengendalian diri”, seorang gembrot harus menyadari bahwa gembrot itu justru membuat dirinya sendiri sangat tidak menarik. Artinya, dia harus berdamai dengan dirinya sendiri melalui kesadaran atas fisiknya sendiri. Dengan kesadaran ini dia bisa berpikir, bagaimana supaya dirinya pun tertarik melihat dirinya sendiri.

Sadar pula bahwa tubuh bukanlah tempat sampah. Semua makanan boleh dimakan tetapi tidak semua harus dimakan apalagi sampai habis.

Setelah itu, mau-tidak mau, kesadaran akan beranjak ke tahap antisipasif dirinya terhadap ketidaktertarikan pada dirinya sendiri. Dengan apa, kalau bukan dengan pengendalian diri. Kesadaran memudahkan proses pengendalian diri.  Pengendalian diri akan memudahkan untuk mengekang selera rakus yang cenderung gagal urus.

Begitu saja kira-kira.

*******
Panggung Renung, 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar