Rabu, 08 Juni 2016

Gangguan Utama dalam Kegiatan Tulis-Menulis

Bagiku, manusia merupakan faktor utama dan sering satu-satunya dalam kegiatan tulis-menulisku. Bukannya listrik padam, hujan badai, angin puting beliung, nyamuk, kecoak, anjing, perang petasan, rapat atau kerja bakti di RT, dan lain-lain. Jumlah manusia itu pun hanya satu. Siapa?

Manusia satu-satunya tersebut adalah orang yang tidak pernah mencoba melakukan kegiatan tulis-menulis sebagai, katakanlah, sebuah bagian dari gaya hidupnya. Tidak peduli latar pendidikan atau ijazah terakhirnya. Meski sudah sering melihat aku tekun menulis, dia tetap datang untuk sekadar ngobrol tentang apa saja yang sama sekali tidak bermutu untuk kutelaah.

Kali ini aku sedang menulis, entah apalah jenisnya, tiba-tiba ponselku menerima pesan singkat (sms). “Sibukkah? Aku mau ke rumahmu,” katanya. Aku pernah menjawabnya, “Iya.” Tidak sampai lima menit dia sudah duduk manis di kursi kayu beranda rumah. “Aku sudah di depan,” katanya.

Mampus! Itu artinya aku harus menemaninya ngobrol ngalor-ngidul selama lebih satu jam. Pernah dalam satu minggu, tiga kali (hari) aku harus meladeninya ngobrol berdurasi lebih tiga jam.

Gila! Satu jam saja, bagiku, sangatlah berharga, terutama ketika sedang bersemangat (mood), bukan suatu kondisi berdisiplin diri dengan jargon “menulis jangan tergantung pada suasana hati”. Tidak jarang aku pun sedang membaca sebuah buku sebagai bagian penting dalam proses kepenulisanku.

Memang, tidak sedikit manusia yang kukenal di sekitarku tidaklah memiliki kegemaran dalam tulis-menulis. Kalaupun mereka mengklaim diri sebagai manusia rajin membaca, aku sangat menyangsikan klaim semacam itu. Sebab, manusia yang rajin apalagi gemar membaca lebih sering menyediakan waktu sekian jam untuk menekuri bacaannya.

Klaim diri sebagai seorang pembaca, bagiku, sekadar sebuah klaim berlandaskan suatu gengsi tersendiri, terutama bagi mereka yang pernah mengenyam pendidikan tinggi. Klaim yang sia-sia, percuma, dan pasti omong kosong belaka. Aku sudah bosan dengan hal-hal semacam itu.

Aku sendiri, dalam pergaulan dengan manusia lainnya, tidaklah pernah mengklaim sebagai seorang penulis. Aku selalu mengklaim sebagai arsitek tulen sesuai dengan latar pendidikan akhirku. Kalau ada yang bertanya mengenai hasil klaimku, selalu kutunjukkan karya-karya arsitekturalku, baik dalam bentuk dua dimensi (gambar) maupun empat dimensi (bangunan). Terlebih kalau ada manusia yang mengajakku berdiskusi mengenai bangunan atau suatu kawasan.

Di samping itu, lingkungan habitatku juga bukanlah para penulis atau para penekun suatu kegiatan kesenian. Manusia-manusia di sekitarku lebih mengutamakan upaya mengeruk material dunia habis-habisan. Sepulang dari kegiatan harian itu mereka akan menikmati waktu dengan ngobrol ngalor-ngidul hingga suatu waktu menerima pembayaran atas kerja keras mereka.

Aku tidak bisa begitu. Ada waktu untuk bekerja keras mengeruk material, dan ada waktu untuk mengeruk isi pikiran dan perasaan dari segala situasi, termasuk ketika membaca suatu berita online, yang tiba-tiba singgah untuk kutuliskan berdasarkan pemahamanku sendiri. Itulah bagian dari gaya hidupku.

Persoalannya, ketika aku menggeluti kegiatan tulis-menulis sebagai bagian dari gaya hidupku, satu manusia itu sama sekali tidak peduli bagaimana aku harus mengelola waktu-waktuku. Dia datang tanpa peduli ketika kujawab “aku sibuk banget”.

Menuliskan situasi semacam ini pun–sebutlah tulisan curahan hati, bagiku, merupakan bagian dari sebuah proses tulis-menulis. Barangkali tulisan semacam ini merupakan sebagian tulisan dalam buku harian (dairy) seperti yang pernah dilakukan oleh banyak orang sebelum maraknya era digital.   

Oleh sebab menulis merupakan bagian dari gaya hidupku, selain sebagai upaya menyiasati waktu dan hal-hal terkait lainnya, aku sudah jarang bertandang ke rumah siapa pun, apalagi terus-menerus di sebuah rumah. Tanpa diajak dan didului dengan kesepakatan, manalah mungkin aku akan keluar habitatku. Mengapa? Aku menghargai pilihan manusia lainnya dalam pengelolaan waktu untuk menikmati gaya hidup mereka.

Aku tidak mau mengganggu gaya hidup manusia lainnya dalam pengelolaan waktu-waktunya. Aku pun tidak suka diganggu oleh manusia lainnya ketika sedang menekuni kegiatan tulis-menulisku. Jadi, marilah saling memahami dan menghargai pilihan hidup masing-masing.

*******
Panggung Renung, 8 Juni 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar