Bagiku, manusia
merupakan faktor utama dan sering satu-satunya dalam kegiatan tulis-menulisku. Bukannya
listrik padam, hujan badai, angin puting beliung, nyamuk, kecoak, anjing, perang
petasan, rapat atau kerja bakti di RT, dan lain-lain. Jumlah manusia itu pun
hanya satu. Siapa?
Manusia
satu-satunya tersebut adalah orang yang tidak pernah mencoba melakukan kegiatan
tulis-menulis sebagai, katakanlah, sebuah bagian dari gaya hidupnya. Tidak
peduli latar pendidikan atau ijazah terakhirnya. Meski sudah sering melihat aku
tekun menulis, dia tetap datang untuk sekadar ngobrol tentang apa saja yang
sama sekali tidak bermutu untuk kutelaah.
Kali ini aku sedang
menulis, entah apalah jenisnya, tiba-tiba ponselku menerima pesan singkat
(sms). “Sibukkah? Aku mau ke rumahmu,”
katanya. Aku pernah menjawabnya, “Iya.” Tidak sampai lima menit dia sudah duduk
manis di kursi kayu beranda rumah. “Aku
sudah di depan,” katanya.
Mampus! Itu artinya
aku harus menemaninya ngobrol ngalor-ngidul
selama lebih satu jam. Pernah dalam satu minggu, tiga kali (hari) aku harus
meladeninya ngobrol berdurasi lebih tiga jam.
Gila! Satu jam
saja, bagiku, sangatlah berharga, terutama ketika sedang bersemangat (mood), bukan suatu kondisi berdisiplin
diri dengan jargon “menulis jangan tergantung pada suasana hati”. Tidak jarang
aku pun sedang membaca sebuah buku sebagai bagian penting dalam proses
kepenulisanku.
Memang, tidak
sedikit manusia yang kukenal di sekitarku tidaklah memiliki kegemaran dalam
tulis-menulis. Kalaupun mereka mengklaim diri sebagai manusia rajin membaca,
aku sangat menyangsikan klaim semacam itu. Sebab, manusia yang rajin apalagi
gemar membaca lebih sering menyediakan waktu sekian jam untuk menekuri
bacaannya.
Klaim diri sebagai
seorang pembaca, bagiku, sekadar sebuah klaim berlandaskan suatu gengsi
tersendiri, terutama bagi mereka yang pernah mengenyam pendidikan tinggi. Klaim
yang sia-sia, percuma, dan pasti omong kosong belaka. Aku sudah bosan dengan
hal-hal semacam itu.
Aku sendiri, dalam
pergaulan dengan manusia lainnya, tidaklah pernah mengklaim sebagai seorang
penulis. Aku selalu mengklaim sebagai arsitek tulen sesuai dengan latar
pendidikan akhirku. Kalau ada yang bertanya mengenai hasil klaimku, selalu
kutunjukkan karya-karya arsitekturalku, baik dalam bentuk dua dimensi (gambar)
maupun empat dimensi (bangunan). Terlebih kalau ada manusia yang mengajakku
berdiskusi mengenai bangunan atau suatu kawasan.
Di samping itu,
lingkungan habitatku juga bukanlah para penulis atau para penekun suatu
kegiatan kesenian. Manusia-manusia di sekitarku lebih mengutamakan upaya
mengeruk material dunia habis-habisan. Sepulang dari kegiatan harian itu mereka
akan menikmati waktu dengan ngobrol ngalor-ngidul
hingga suatu waktu menerima pembayaran atas kerja keras mereka.
Aku tidak bisa
begitu. Ada waktu untuk bekerja keras mengeruk material, dan ada waktu untuk
mengeruk isi pikiran dan perasaan dari segala situasi, termasuk ketika membaca
suatu berita online, yang tiba-tiba
singgah untuk kutuliskan berdasarkan pemahamanku sendiri. Itulah bagian dari
gaya hidupku.
Persoalannya,
ketika aku menggeluti kegiatan tulis-menulis sebagai bagian dari gaya hidupku,
satu manusia itu sama sekali tidak peduli bagaimana aku harus mengelola
waktu-waktuku. Dia datang tanpa peduli ketika kujawab “aku sibuk banget”.
Menuliskan situasi
semacam ini pun–sebutlah tulisan curahan hati, bagiku, merupakan bagian dari
sebuah proses tulis-menulis. Barangkali tulisan semacam ini merupakan sebagian
tulisan dalam buku harian (dairy)
seperti yang pernah dilakukan oleh banyak orang sebelum maraknya era digital.
Oleh sebab menulis
merupakan bagian dari gaya hidupku, selain sebagai upaya menyiasati waktu dan
hal-hal terkait lainnya, aku sudah jarang bertandang ke rumah siapa pun, apalagi
terus-menerus di sebuah rumah. Tanpa diajak dan didului dengan kesepakatan,
manalah mungkin aku akan keluar habitatku. Mengapa? Aku menghargai pilihan
manusia lainnya dalam pengelolaan waktu untuk menikmati gaya hidup mereka.
Aku tidak mau
mengganggu gaya hidup manusia lainnya dalam pengelolaan waktu-waktunya. Aku pun
tidak suka diganggu oleh manusia lainnya ketika sedang menekuni kegiatan
tulis-menulisku. Jadi, marilah saling memahami dan menghargai pilihan hidup
masing-masing.
*******
Panggung Renung, 8 Juni 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar