Aku semakin percaya
bahwa gelap gulita memiliki sisi baik daripada terang benderang tetapi sama
sekali lewat begitu saja. Gelap gulita yang menggeliat tidaklah tertangkap oleh
mata sehingga tiba-tiba muncul di depan mata dengan sebuah kejutan yang
signifikan. Sementara terang benderang hanya gemar menampakkan dirinya dengan
kadar narsis yang sangat kronis.
Seperti juga ketika
aku melangkah dalam sebuah suasana gelap gulita, ada geliat yang benar-benar
bisa kurasa volumenya. Ternyata geliat dalam gelap sangat berenergi, dan
sanggup merengkuhku dengan segala bentuk fisik meski tetap tidak mampu kulihat.
Berbeda ketika aku
melangkah dalam suasana terang benderang. Masing-masing terang lebih suka
membanggakan dirinya, membanggakan jerih payah sendiri. Dalam suasana itu aku
melihat diriku bagaikan angin, dan terang benderang pun hilir-mudik tanpa
melirik sesekali pun pada keberadaanku. Terang benderang seperti sekadar
sekelebat cahaya udara. Terkadang silau tetapi hampa.
Beginilah kenyataan
hidup di dunia bersama orang-orang yang telah merasa dirinya paling benderang
sejagat raya. Kenyataan ini, sebenarnya, sudah terlalu sering menyatakan
sikapnya tetapi aku masih saja mencoba untuk berpikir positif bahwa,
bagaimanapun, terang benderang adalah sekumpulan kebaikan yang menyenangkan.
Berpikir positif
memanglah sangat baik tetapi tidak perlu terlalu kupercaya seutuhnya kepada
kenyataan. Biarkan pikiran positif itu hanya tertuju pada gelap gulita, yang
jauh lebih mampu menyatakan sikapnya melalui rengkuhan hangatnya dan memberi
kesempatanku untuk menyalakan lilinku sendiri.
*******
Beranda Khayal, 16 Juni 2016
Beranda Khayal, 16 Juni 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar