Jumat, 17 Juni 2016

Percaya kepada Gelap Gulita

Aku semakin percaya bahwa gelap gulita memiliki sisi baik daripada terang benderang tetapi sama sekali lewat begitu saja. Gelap gulita yang menggeliat tidaklah tertangkap oleh mata sehingga tiba-tiba muncul di depan mata dengan sebuah kejutan yang signifikan. Sementara terang benderang hanya gemar menampakkan dirinya dengan kadar narsis yang sangat kronis.

Seperti juga ketika aku melangkah dalam sebuah suasana gelap gulita, ada geliat yang benar-benar bisa kurasa volumenya. Ternyata geliat dalam gelap sangat berenergi, dan sanggup merengkuhku dengan segala bentuk fisik meski tetap tidak mampu kulihat.

Berbeda ketika aku melangkah dalam suasana terang benderang. Masing-masing terang lebih suka membanggakan dirinya, membanggakan jerih payah sendiri. Dalam suasana itu aku melihat diriku bagaikan angin, dan terang benderang pun hilir-mudik tanpa melirik sesekali pun pada keberadaanku. Terang benderang seperti sekadar sekelebat cahaya udara. Terkadang silau tetapi hampa.

Beginilah kenyataan hidup di dunia bersama orang-orang yang telah merasa dirinya paling benderang sejagat raya. Kenyataan ini, sebenarnya, sudah terlalu sering menyatakan sikapnya tetapi aku masih saja mencoba untuk berpikir positif bahwa, bagaimanapun, terang benderang adalah sekumpulan kebaikan yang menyenangkan.

Berpikir positif memanglah sangat baik tetapi tidak perlu terlalu kupercaya seutuhnya kepada kenyataan. Biarkan pikiran positif itu hanya tertuju pada gelap gulita, yang jauh lebih mampu menyatakan sikapnya melalui rengkuhan hangatnya dan memberi kesempatanku untuk menyalakan lilinku sendiri.


*******
Beranda Khayal, 16 Juni 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar