Aku kehilangan
kata-kata ketika Ayah pergi sebelum kutuliskan banyak hal mengenai Ayah. Aku
terlalu suntuk dengan diriku sendiri; dengan segala situasi, kebutuhan, dan
keinginan. Terlebih dengan terlalu lama jauh di perantauan, aku tidak lagi bisa
duduk untuk mendengar sembari mencatatkan semua cerita Ayah dalam ingatanku.
Bagiku, Ayah
merupakan pencerita pertama dan paling berkesan. Segelintir cerita bergulir
dari masa kecil Ayah di Madiun, masa belajar sembari berjuang bagi bangsa-negara
di Malang, masa pengabdian di Sungailiat, dan hari-hari terakhir ketika
menerima kunjungan mantan murid-murid SMP Maria Goretti. Hari-hari terakhir,
ketika musim reuni dari semaraknya dampak media sosial, mantan murid-murid itu
membentuk komunitas, dan masing-masing membagi diri dalam angkatan masuk-keluar
SMP Maria Goretti.
Yang datang setelah
aku tiba di rumah orangtuaku atau sebelum penguburan adalah Aling, Aching,
Aying, Asiu, dan Dahlia. Kami ngobrol di teras rumah, di antara para pelayat.
Selain kunjungan belasungkawa, mereka juga memberikan amplop untuk sumbangan.
Ada tertulis dari Ayin, Paltiada Saragih, dan lain-lain. Mereka tidak tahu,
sebelumnya aku menangis tersedu-sedu atas kepergian Ayah.
Aku sangat
menghargai, dan mengangkat penghormatan setinggi-tingginya kepada komunitas
alumni SMP Maria Goretti yang pernah diajarkan Ayah di sekolah. Mayoritas
adalah orang Tionghoa. Sungguh, suatu kenyataan yang luar biasa, bahwa
orang-orang Tionghoa Sungailiat sangat peduli pada masa tua mantan guru-guru
mereka. Bahkan, kursi-kursi plastik merah dan bangsal terakhir di depan rumah
pada waktu mengantar kepergian ayah adalah sumbangan (tanpa biaya sewa sepeser
pun!) dari seoran mantan murid Ayah. Kejadiannya di depan mata-telingaku
sendiri.
Entah mengapa,
mantan murid-murid STM Sungailiat tidak ada yang membentuk reuni, dan
berkunjung, padahal masa pengabdian pertama ayah justru di STM. Dan, seorang
mantan murid yang pernah menjadi orang nomor satu di Bangka dan Babel, adalah
murid Ayah di STM, meski sekitar satu tahun telah mendului Ayah pergi ke
langit. Entah mengapa, mantan murid-murid STM Ayah, yang sebagian telah sukses
di jajaran birokrat Bangka, sama sekali tidak menampakkan diri. Hal ini yang
masih menjadi pertanyaan bagiku, kendati tidak terlalu penting-darurat.
Aku pun kehilangan
kata-kata ketika berada di kampung halaman. Kepalaku kosong dari kunjungan
gagasan menulis apa pun. Aku berusaha mencarinya di sekitar rumah, di
rumah-rumah tetangga atau kawan-kawan kecilku. Dodi, Doni, Sidi, Heri, dan Jun.
Minum kopi bahkan makan besar juga di salah satu rumah mereka karena aku
menyukai lingkungan sosial kampungku, yang sederhana, dan tetap berkelakar
seperti dulu.
Juga minum kopi
subuh di Pasar Atas Sungailiat dengan Acin alias Taipak Cin alias bosnya LSM
Laskar Sekaban. Ngobrol pagi tentang apa saja. Aku butuh informasi tentang
hal-hal yang tidak kuketahui setelah menjadi warga Balikpapan.
Lain waktu kucoba
keluar dari ‘perahu’ dengan berjumpa kawan-kawan sekolah dulu. Hanya seorang,
yaitu Ahoi, yang bernama Indonesianya Bambang Hermanto. Di sebuah kafe kopi
yang tengah ramai dan hujan deras mengguyur Sungailiat, aku dan Ahoi berbagi
kisah mengenai kehidupan berkawan. Tidak ada bisnis, dan aku selalu menghindar
dari kepentingan bisnis dengan kawan-kawan Tionghoaku.
Ternyata Ahoi
berkawan baik bahkan seperti saudara dengan Akhiong–anak pemborong pembangunan
rumah orangtuaku, dan aku pernah bermain dengan Akhiong di sungai dekat rumah
mereka. Dari tempat itu aku dan Ahoi berangkat ke rumah orangtua Akhiong, yang
sudah pindah ke daerah Air Kenanga. Ahoi membawa bekal untuk bapaknya Akhiong,
sementara Akhiong sedang berada di Jakarta.
Yang kujumpai lagi
adalah Aling di apotiknya karena aku mau membeli obat untuk Ibu. Ngobrol dengan
Aling bukanlah hal yang baru. Ah, dia memang lincah, apalagi ekspresinya masih
seperti ketika kami sekelas sejak SD sampai SMP.
Sampai hari
terakhir aku masih menunggu Deviar Fitriansyah, Marihot Porman Daniel Aritonang
dan Paskalis Gabriel. Ketiga kawan SD-SMP ini dulu kawan-kawan bandelku.
Sayangnya, ketiganya entah ke mana hingga aku diantar Acin ke Bandara Depati
Amir, dan aku kehilangan kata-kata untuk membujuk mereka agar memberi sedikit
waktu karena manalah mungkin mereka akan datang ke Balikpapan hanya sekadar
untuk minum kopi denganku.
*******
Minggu Paskah -
Balikpapan, 27 Maret 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar