Kamis, 02 Juni 2016

Kehilangan Kata-kata

Aku kehilangan kata-kata ketika Ayah pergi sebelum kutuliskan banyak hal mengenai Ayah. Aku terlalu suntuk dengan diriku sendiri; dengan segala situasi, kebutuhan, dan keinginan. Terlebih dengan terlalu lama jauh di perantauan, aku tidak lagi bisa duduk untuk mendengar sembari mencatatkan semua cerita Ayah dalam ingatanku.

Bagiku, Ayah merupakan pencerita pertama dan paling berkesan. Segelintir cerita bergulir dari masa kecil Ayah di Madiun, masa belajar sembari berjuang bagi bangsa-negara di Malang, masa pengabdian di Sungailiat, dan hari-hari terakhir ketika menerima kunjungan mantan murid-murid SMP Maria Goretti. Hari-hari terakhir, ketika musim reuni dari semaraknya dampak media sosial, mantan murid-murid itu membentuk komunitas, dan masing-masing membagi diri dalam angkatan masuk-keluar SMP Maria Goretti.

Yang datang setelah aku tiba di rumah orangtuaku atau sebelum penguburan adalah Aling, Aching, Aying, Asiu, dan Dahlia. Kami ngobrol di teras rumah, di antara para pelayat. Selain kunjungan belasungkawa, mereka juga memberikan amplop untuk sumbangan. Ada tertulis dari Ayin, Paltiada Saragih, dan lain-lain. Mereka tidak tahu, sebelumnya aku menangis tersedu-sedu atas kepergian Ayah.

Aku sangat menghargai, dan mengangkat penghormatan setinggi-tingginya kepada komunitas alumni SMP Maria Goretti yang pernah diajarkan Ayah di sekolah. Mayoritas adalah orang Tionghoa. Sungguh, suatu kenyataan yang luar biasa, bahwa orang-orang Tionghoa Sungailiat sangat peduli pada masa tua mantan guru-guru mereka. Bahkan, kursi-kursi plastik merah dan bangsal terakhir di depan rumah pada waktu mengantar kepergian ayah adalah sumbangan (tanpa biaya sewa sepeser pun!) dari seoran mantan murid Ayah. Kejadiannya di depan mata-telingaku sendiri.

Entah mengapa, mantan murid-murid STM Sungailiat tidak ada yang membentuk reuni, dan berkunjung, padahal masa pengabdian pertama ayah justru di STM. Dan, seorang mantan murid yang pernah menjadi orang nomor satu di Bangka dan Babel, adalah murid Ayah di STM, meski sekitar satu tahun telah mendului Ayah pergi ke langit. Entah mengapa, mantan murid-murid STM Ayah, yang sebagian telah sukses di jajaran birokrat Bangka, sama sekali tidak menampakkan diri. Hal ini yang masih menjadi pertanyaan bagiku, kendati tidak terlalu penting-darurat.

Aku pun kehilangan kata-kata ketika berada di kampung halaman. Kepalaku kosong dari kunjungan gagasan menulis apa pun. Aku berusaha mencarinya di sekitar rumah, di rumah-rumah tetangga atau kawan-kawan kecilku. Dodi, Doni, Sidi, Heri, dan Jun. Minum kopi bahkan makan besar juga di salah satu rumah mereka karena aku menyukai lingkungan sosial kampungku, yang sederhana, dan tetap berkelakar seperti dulu.

Juga minum kopi subuh di Pasar Atas Sungailiat dengan Acin alias Taipak Cin alias bosnya LSM Laskar Sekaban. Ngobrol pagi tentang apa saja. Aku butuh informasi tentang hal-hal yang tidak kuketahui setelah menjadi warga Balikpapan.

Lain waktu kucoba keluar dari ‘perahu’ dengan berjumpa kawan-kawan sekolah dulu. Hanya seorang, yaitu Ahoi, yang bernama Indonesianya Bambang Hermanto. Di sebuah kafe kopi yang tengah ramai dan hujan deras mengguyur Sungailiat, aku dan Ahoi berbagi kisah mengenai kehidupan berkawan. Tidak ada bisnis, dan aku selalu menghindar dari kepentingan bisnis dengan kawan-kawan Tionghoaku.

Ternyata Ahoi berkawan baik bahkan seperti saudara dengan Akhiong–anak pemborong pembangunan rumah orangtuaku, dan aku pernah bermain dengan Akhiong di sungai dekat rumah mereka. Dari tempat itu aku dan Ahoi berangkat ke rumah orangtua Akhiong, yang sudah pindah ke daerah Air Kenanga. Ahoi membawa bekal untuk bapaknya Akhiong, sementara Akhiong sedang berada di Jakarta.

Yang kujumpai lagi adalah Aling di apotiknya karena aku mau membeli obat untuk Ibu. Ngobrol dengan Aling bukanlah hal yang baru. Ah, dia memang lincah, apalagi ekspresinya masih seperti ketika kami sekelas sejak SD sampai SMP. 

Sampai hari terakhir aku masih menunggu Deviar Fitriansyah, Marihot Porman Daniel Aritonang dan Paskalis Gabriel. Ketiga kawan SD-SMP ini dulu kawan-kawan bandelku. Sayangnya, ketiganya entah ke mana hingga aku diantar Acin ke Bandara Depati Amir, dan aku kehilangan kata-kata untuk membujuk mereka agar memberi sedikit waktu karena manalah mungkin mereka akan datang ke Balikpapan hanya sekadar untuk minum kopi denganku.

*******

Minggu Paskah - Balikpapan, 27 Maret 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar