Jumat, 17 Juni 2016

Percaya kepada Gelap Gulita

Aku semakin percaya bahwa gelap gulita memiliki sisi baik daripada terang benderang tetapi sama sekali lewat begitu saja. Gelap gulita yang menggeliat tidaklah tertangkap oleh mata sehingga tiba-tiba muncul di depan mata dengan sebuah kejutan yang signifikan. Sementara terang benderang hanya gemar menampakkan dirinya dengan kadar narsis yang sangat kronis.

Seperti juga ketika aku melangkah dalam sebuah suasana gelap gulita, ada geliat yang benar-benar bisa kurasa volumenya. Ternyata geliat dalam gelap sangat berenergi, dan sanggup merengkuhku dengan segala bentuk fisik meski tetap tidak mampu kulihat.

Berbeda ketika aku melangkah dalam suasana terang benderang. Masing-masing terang lebih suka membanggakan dirinya, membanggakan jerih payah sendiri. Dalam suasana itu aku melihat diriku bagaikan angin, dan terang benderang pun hilir-mudik tanpa melirik sesekali pun pada keberadaanku. Terang benderang seperti sekadar sekelebat cahaya udara. Terkadang silau tetapi hampa.

Beginilah kenyataan hidup di dunia bersama orang-orang yang telah merasa dirinya paling benderang sejagat raya. Kenyataan ini, sebenarnya, sudah terlalu sering menyatakan sikapnya tetapi aku masih saja mencoba untuk berpikir positif bahwa, bagaimanapun, terang benderang adalah sekumpulan kebaikan yang menyenangkan.

Berpikir positif memanglah sangat baik tetapi tidak perlu terlalu kupercaya seutuhnya kepada kenyataan. Biarkan pikiran positif itu hanya tertuju pada gelap gulita, yang jauh lebih mampu menyatakan sikapnya melalui rengkuhan hangatnya dan memberi kesempatanku untuk menyalakan lilinku sendiri.


*******
Beranda Khayal, 16 Juni 2016

Kamis, 09 Juni 2016

Menghapus 1.400-an Teman di Media Sosial

Akhir Mei 2016 saya menghapus sekitar 1.400-an teman di salah satu akun media sosial (FB) saya. Hal ini saya lakukan setelah melihat realitas yang tidak memberi ‘sesuatu’ yang berguna bagi saya.

Tidak berguna? Maksudnya?

Pertama, postingan yang hedonis, misalnya tamasya, makan di mana, dan lain-lain, berupa foto-foto. Hal yang paling tidak berguna adalah ketika postingan tersebut dilakukan oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi. Bagi saya, hal semacam itu sama sekali sebagai ungkapan kebodohan belaka, alias sama saja dengan kalangan yang sama sekali tidak pernah bersekolah tinggi.

Kedua, berkaitan dengan pertama, kegemaran memamerkan kebodohan yang mengamburkan uang tanpa sebuah ulasan intelektual merupakan ‘penghinaan’ bagi saya yang selalu berusaha memanfaatkan segala sesuatu menjadi semacam tulisan sebagai rekaman sekaligus tanggapan saya. Pengalaman hedonisme mereka sekadar pamer kelas sosial-ekonomi. Kaya tapi bodoh tapi bergelar sarjana. Alangkah celakanya!

Ketiga, orang-orang kaya dengan segala pameran harta-benda dan perilaku hedonisme tetapi tidak mau membeli buku saya. Kaya tetapi pelit. Bergelar sarjana, katanya suka membaca, tetapi tidak sudi membeli buku saya yang harganya tidak akan membuat mereka bangkrut. Kalau mereka mengira harta dan hedonisme mereka lebih berguna, ya, silakan saja berteman dengan sesama mereka.

Keempat, mereka tidak menanggapi postingan tulisan apalagi catatan-catatan saya. Mereka sibuk memamerkan kelas sosial-ekonomi tetapi tidak kritis terhadap situasi sosial-politik terkini.

Kelima, ketiadaan komunikasi interaktif dalam pertemanan antara mereka dan saya melalui komentar pada status saya. Saya yang selalu mengomentari postingan mereka tetapi mereka tidak pernah mau mengomentari postingan saya.

Keenam, ketiadaan komunikasi secara verbal (langsung). Secara pribadi saya tidak pernah berkenalan dengan mereka, apalagi ternyata mereka para pedagang online.

Ketujuh, ada pula yang berkecenderungan menghina secara verbal dan sama sekali tidak mampu menampilkan suatu kebermutuan dalam penelaahan intelektual. Kalangan satu ini memiliki semacam kaitan perkoncoan (suka main keroyok) yang hanya menjadi batu sandungan bagi proses kreativitas saya.

Kedelapan, sebagian mereka tidak kritis, khususnya mengenai seorang Ahok, yang ternyata telah menjadi tuhan yang sembah-bela habis-habisan.   

Begitulah, delapan alasan saya menghapus pertemanan dengan sekitar 1.400-an teman di media sosial. Ketika saya melihat bahwa postingan atau karya saya tidak membuat mereka tertarik, saya pun bisa berkesimpulan bahwa apalah guna pertamanan apabila sama sekali tidak ada yang menarik apalagi mencerahkan. Lebih baik saya hapus saja daripada hanya menyampahi beranda akun media sosial saya.

*******

Panggung Renung, Juni 2016

Rabu, 08 Juni 2016

Gangguan Utama dalam Kegiatan Tulis-Menulis

Bagiku, manusia merupakan faktor utama dan sering satu-satunya dalam kegiatan tulis-menulisku. Bukannya listrik padam, hujan badai, angin puting beliung, nyamuk, kecoak, anjing, perang petasan, rapat atau kerja bakti di RT, dan lain-lain. Jumlah manusia itu pun hanya satu. Siapa?

Manusia satu-satunya tersebut adalah orang yang tidak pernah mencoba melakukan kegiatan tulis-menulis sebagai, katakanlah, sebuah bagian dari gaya hidupnya. Tidak peduli latar pendidikan atau ijazah terakhirnya. Meski sudah sering melihat aku tekun menulis, dia tetap datang untuk sekadar ngobrol tentang apa saja yang sama sekali tidak bermutu untuk kutelaah.

Kali ini aku sedang menulis, entah apalah jenisnya, tiba-tiba ponselku menerima pesan singkat (sms). “Sibukkah? Aku mau ke rumahmu,” katanya. Aku pernah menjawabnya, “Iya.” Tidak sampai lima menit dia sudah duduk manis di kursi kayu beranda rumah. “Aku sudah di depan,” katanya.

Mampus! Itu artinya aku harus menemaninya ngobrol ngalor-ngidul selama lebih satu jam. Pernah dalam satu minggu, tiga kali (hari) aku harus meladeninya ngobrol berdurasi lebih tiga jam.

Gila! Satu jam saja, bagiku, sangatlah berharga, terutama ketika sedang bersemangat (mood), bukan suatu kondisi berdisiplin diri dengan jargon “menulis jangan tergantung pada suasana hati”. Tidak jarang aku pun sedang membaca sebuah buku sebagai bagian penting dalam proses kepenulisanku.

Memang, tidak sedikit manusia yang kukenal di sekitarku tidaklah memiliki kegemaran dalam tulis-menulis. Kalaupun mereka mengklaim diri sebagai manusia rajin membaca, aku sangat menyangsikan klaim semacam itu. Sebab, manusia yang rajin apalagi gemar membaca lebih sering menyediakan waktu sekian jam untuk menekuri bacaannya.

Klaim diri sebagai seorang pembaca, bagiku, sekadar sebuah klaim berlandaskan suatu gengsi tersendiri, terutama bagi mereka yang pernah mengenyam pendidikan tinggi. Klaim yang sia-sia, percuma, dan pasti omong kosong belaka. Aku sudah bosan dengan hal-hal semacam itu.

Aku sendiri, dalam pergaulan dengan manusia lainnya, tidaklah pernah mengklaim sebagai seorang penulis. Aku selalu mengklaim sebagai arsitek tulen sesuai dengan latar pendidikan akhirku. Kalau ada yang bertanya mengenai hasil klaimku, selalu kutunjukkan karya-karya arsitekturalku, baik dalam bentuk dua dimensi (gambar) maupun empat dimensi (bangunan). Terlebih kalau ada manusia yang mengajakku berdiskusi mengenai bangunan atau suatu kawasan.

Di samping itu, lingkungan habitatku juga bukanlah para penulis atau para penekun suatu kegiatan kesenian. Manusia-manusia di sekitarku lebih mengutamakan upaya mengeruk material dunia habis-habisan. Sepulang dari kegiatan harian itu mereka akan menikmati waktu dengan ngobrol ngalor-ngidul hingga suatu waktu menerima pembayaran atas kerja keras mereka.

Aku tidak bisa begitu. Ada waktu untuk bekerja keras mengeruk material, dan ada waktu untuk mengeruk isi pikiran dan perasaan dari segala situasi, termasuk ketika membaca suatu berita online, yang tiba-tiba singgah untuk kutuliskan berdasarkan pemahamanku sendiri. Itulah bagian dari gaya hidupku.

Persoalannya, ketika aku menggeluti kegiatan tulis-menulis sebagai bagian dari gaya hidupku, satu manusia itu sama sekali tidak peduli bagaimana aku harus mengelola waktu-waktuku. Dia datang tanpa peduli ketika kujawab “aku sibuk banget”.

Menuliskan situasi semacam ini pun–sebutlah tulisan curahan hati, bagiku, merupakan bagian dari sebuah proses tulis-menulis. Barangkali tulisan semacam ini merupakan sebagian tulisan dalam buku harian (dairy) seperti yang pernah dilakukan oleh banyak orang sebelum maraknya era digital.   

Oleh sebab menulis merupakan bagian dari gaya hidupku, selain sebagai upaya menyiasati waktu dan hal-hal terkait lainnya, aku sudah jarang bertandang ke rumah siapa pun, apalagi terus-menerus di sebuah rumah. Tanpa diajak dan didului dengan kesepakatan, manalah mungkin aku akan keluar habitatku. Mengapa? Aku menghargai pilihan manusia lainnya dalam pengelolaan waktu untuk menikmati gaya hidup mereka.

Aku tidak mau mengganggu gaya hidup manusia lainnya dalam pengelolaan waktu-waktunya. Aku pun tidak suka diganggu oleh manusia lainnya ketika sedang menekuni kegiatan tulis-menulisku. Jadi, marilah saling memahami dan menghargai pilihan hidup masing-masing.

*******
Panggung Renung, 8 Juni 2016

Kamis, 02 Juni 2016

Sepiring Nasi Putih Berlauk-sayur Sekerat Roti Tawar

Saya baru mengetahui, sebuah lomba diberi nama “Lomba CGH” di Balikpapan, Kaltim. CGH adalah singkatan dari “Clean Green Health” atau “Bersih Hijau Sehat”.

Lomba CGH adalah sebuah lomba yang diikuti oleh sebagian Rukun Tetangga (RT), baik di tingkat kelurahan, kecamatan, bahkan kabupaten/kotamadya. Dan saya mengetahuinya karena RT kami sedang giat menyiapkan diri untuk mengikuti lomba tersebut tetapi sudah mencapai tingkat Kotamadya.

Pada Maret lalu RT kami meraih posisi pemenang ke-3 untuk tingkat kecamatan dengan menggondol salah satu hadiah berupa uang pembinaan sebesar Rp1.900.000,00. Padahal, menurut Ketua RT kami, keikutsertaan dalam lomba tingkat kecamatan, sebenarnya RT kami ‘hanya’ menjadi pelengkap alias bukanlah RT yang sengaja menjadi andalan oleh pihak kelurahan.

Dalam tulisan iseng kali ini saya tidak sedang membahas soal selain penggunaan kosakata asing–bahasa Inggris. Kata “kosakata” pun tidak patut saya ganti dengan “vocabulary”, atau kata “singkatan” saya ganti dengan kata “akronim” yang sudah menjadi kosakata Indonesia, ‘kan?

Istilah “Lomba CGH” sudah menampakkan ketidaksesuaian penggunaan kata. Kata “lomba” menunjukkan bahwa hajatan dilakukan di Indonesia, yang dalam hal ini adalah Balikpapan. Kemudian kata “lomba” dilanjutkan dengan “CGH” yang merupakan singkatan dari kosakata berbahasa Inggris.

Saya ibaratkan makanan pokok Indonesia bercampur dengan makanan pokok Inggris. Anggap saja nasi putih berlauk-sayur roti tawar, atau makan sepiring nasi putih bersandingkan sekerat roti tawar. Lidah saya masih asli Indonesia, tentunya, akan merasa ‘asing’ jika makan nasi berlauk-sayur roti tawar. Entahlah kalau lidah orang-orang Balikpapan; apakah sudah terbiasa menikmati sepiring nasi berlauk-sayur sekerat roti tawar.

Itu dari sisi penggunaan istilah untuk suatu hajatan persaingan. Dari sisi berikutnya adalah peserta hajatan. Pesertanya adalah RT alias sama sekali bukan sebuah wilayah pemerintahan terkecil yang berisi warga negara Inggris atau kebanyakan warganya adalah orang Inggris.

Berikutnya lagi adalah panitia hajatan, baik kelurahan hingga kotamadya. Kata “kelurahan”, “kecamatan”, dan “kotamadya” pun jelas sekali bukanlah dari bahasa Inggris.

Akan tetapi, apakah para peserta, panitia, dan segala hal berkaitan dengan lomba itu, termasuk syarat dan bahan yang akan dilombakan, menggunakan bahasa Inggris, minimal 50% dari keseluruhannya?

Sama sekali tidak. Hanya “CGH” yang menggunakan kosakata berbahasa Inggris. Hal ini saya buktikan dengan kehadiran saya mewakili ketua RT kami dalam acara pembekalan untuk peserta lomba. Dari kata sambutan walikota, penjelasan ini-itu hingga bagian tanya-jawab antara panitia dan peserta lomba, semuanya menggunakan bahasa Indonesia, dan sedikit dicampur dengan bahasa daerah melalui percakapannya.    

Jadi, bagaimana?

Sebenarnya saya bingung, dan entah sampai kapan saya akan selalu dikerubungi oleh hal-hal bingung yang berdengung-dengung semacam ini.  Saya hidup di Indonesia, bergaul dengan orang Indonesia, termasuk tetangga-tetangga saya. Saya selalu sadar di mana saya berada, yaitu di Indonesia, lingkungan saya adalah orang Indonesia, hajatan serba Indonesia, dan selalu diimbau untuk mencintai Indonesia sebagaimana ikrar yang didengung-dengungkan “NKRI harga mati”.

Ya, saya bingung lagi ketika ikrar itu “NKRI harga mati”. Berbahasa Indonesia saja masih ‘asing’, seperti saya ibaratkan tadi, makan sepiring nasi putih berlauk-sayur  sekerat roti tawar. Sangat membingungkan bagi saya. Entahlah bagi orang Indonesia lainnya, yang sama sekali menetap di Indonesia sampai sekian juta keturunannya, mungkin doyan makan sepiring nasi berlauk-sayur sekerat roti tawar.   

*******

Panggung Renung, 19 Mei 2016

Kehilangan Kata-kata

Aku kehilangan kata-kata ketika Ayah pergi sebelum kutuliskan banyak hal mengenai Ayah. Aku terlalu suntuk dengan diriku sendiri; dengan segala situasi, kebutuhan, dan keinginan. Terlebih dengan terlalu lama jauh di perantauan, aku tidak lagi bisa duduk untuk mendengar sembari mencatatkan semua cerita Ayah dalam ingatanku.

Bagiku, Ayah merupakan pencerita pertama dan paling berkesan. Segelintir cerita bergulir dari masa kecil Ayah di Madiun, masa belajar sembari berjuang bagi bangsa-negara di Malang, masa pengabdian di Sungailiat, dan hari-hari terakhir ketika menerima kunjungan mantan murid-murid SMP Maria Goretti. Hari-hari terakhir, ketika musim reuni dari semaraknya dampak media sosial, mantan murid-murid itu membentuk komunitas, dan masing-masing membagi diri dalam angkatan masuk-keluar SMP Maria Goretti.

Yang datang setelah aku tiba di rumah orangtuaku atau sebelum penguburan adalah Aling, Aching, Aying, Asiu, dan Dahlia. Kami ngobrol di teras rumah, di antara para pelayat. Selain kunjungan belasungkawa, mereka juga memberikan amplop untuk sumbangan. Ada tertulis dari Ayin, Paltiada Saragih, dan lain-lain. Mereka tidak tahu, sebelumnya aku menangis tersedu-sedu atas kepergian Ayah.

Aku sangat menghargai, dan mengangkat penghormatan setinggi-tingginya kepada komunitas alumni SMP Maria Goretti yang pernah diajarkan Ayah di sekolah. Mayoritas adalah orang Tionghoa. Sungguh, suatu kenyataan yang luar biasa, bahwa orang-orang Tionghoa Sungailiat sangat peduli pada masa tua mantan guru-guru mereka. Bahkan, kursi-kursi plastik merah dan bangsal terakhir di depan rumah pada waktu mengantar kepergian ayah adalah sumbangan (tanpa biaya sewa sepeser pun!) dari seoran mantan murid Ayah. Kejadiannya di depan mata-telingaku sendiri.

Entah mengapa, mantan murid-murid STM Sungailiat tidak ada yang membentuk reuni, dan berkunjung, padahal masa pengabdian pertama ayah justru di STM. Dan, seorang mantan murid yang pernah menjadi orang nomor satu di Bangka dan Babel, adalah murid Ayah di STM, meski sekitar satu tahun telah mendului Ayah pergi ke langit. Entah mengapa, mantan murid-murid STM Ayah, yang sebagian telah sukses di jajaran birokrat Bangka, sama sekali tidak menampakkan diri. Hal ini yang masih menjadi pertanyaan bagiku, kendati tidak terlalu penting-darurat.

Aku pun kehilangan kata-kata ketika berada di kampung halaman. Kepalaku kosong dari kunjungan gagasan menulis apa pun. Aku berusaha mencarinya di sekitar rumah, di rumah-rumah tetangga atau kawan-kawan kecilku. Dodi, Doni, Sidi, Heri, dan Jun. Minum kopi bahkan makan besar juga di salah satu rumah mereka karena aku menyukai lingkungan sosial kampungku, yang sederhana, dan tetap berkelakar seperti dulu.

Juga minum kopi subuh di Pasar Atas Sungailiat dengan Acin alias Taipak Cin alias bosnya LSM Laskar Sekaban. Ngobrol pagi tentang apa saja. Aku butuh informasi tentang hal-hal yang tidak kuketahui setelah menjadi warga Balikpapan.

Lain waktu kucoba keluar dari ‘perahu’ dengan berjumpa kawan-kawan sekolah dulu. Hanya seorang, yaitu Ahoi, yang bernama Indonesianya Bambang Hermanto. Di sebuah kafe kopi yang tengah ramai dan hujan deras mengguyur Sungailiat, aku dan Ahoi berbagi kisah mengenai kehidupan berkawan. Tidak ada bisnis, dan aku selalu menghindar dari kepentingan bisnis dengan kawan-kawan Tionghoaku.

Ternyata Ahoi berkawan baik bahkan seperti saudara dengan Akhiong–anak pemborong pembangunan rumah orangtuaku, dan aku pernah bermain dengan Akhiong di sungai dekat rumah mereka. Dari tempat itu aku dan Ahoi berangkat ke rumah orangtua Akhiong, yang sudah pindah ke daerah Air Kenanga. Ahoi membawa bekal untuk bapaknya Akhiong, sementara Akhiong sedang berada di Jakarta.

Yang kujumpai lagi adalah Aling di apotiknya karena aku mau membeli obat untuk Ibu. Ngobrol dengan Aling bukanlah hal yang baru. Ah, dia memang lincah, apalagi ekspresinya masih seperti ketika kami sekelas sejak SD sampai SMP. 

Sampai hari terakhir aku masih menunggu Deviar Fitriansyah, Marihot Porman Daniel Aritonang dan Paskalis Gabriel. Ketiga kawan SD-SMP ini dulu kawan-kawan bandelku. Sayangnya, ketiganya entah ke mana hingga aku diantar Acin ke Bandara Depati Amir, dan aku kehilangan kata-kata untuk membujuk mereka agar memberi sedikit waktu karena manalah mungkin mereka akan datang ke Balikpapan hanya sekadar untuk minum kopi denganku.

*******

Minggu Paskah - Balikpapan, 27 Maret 2016

Rabu, 01 Juni 2016

Menulis Seputar Dunia Arsitektur

Saya pernah, beberapa kali, dikomplain oleh sebagian kawan, bahwasannya saya belum benar-benar menulis seputar dunia arsitektur, minimal arsitektur di sekitar (terdekat) saya. Selama ini, komplain mereka, saya hanya berputar-putar di sekitar pusar, eh, sekitar dunia luar arsitektur, padahal banyak bangunan di sekitar saya mampu memberi inspirasi kepenulisan. 

Kalau sudah begitu, pasti saya langsung mengalami kesulitan berkilah. Komplain mereka telak menampar saya. Gawat tenan iki!

Diam-diam saya berpikir, bagaimana kalau komplain tersebut ditujukan kepada para dosen arsitektur sehingga bisa lebih jelas-jeli bahan rujukannya, dapat dipertanggungjawabkan secara teoritis, dan sesuai dengan sebutan “problem solver” dalam arsitektur praktis. Saya pikir, pikiran saya tidaklah keliru sasaran.

Diam-diam mereka pun berpikir bahwa pikiran saya keliru jika merupakan sebuah upaya melarikan diri dari kenyataan nan tantangan. Meski bukan dosen, seorang arsitek sebagai praktisi seharusnya mampu menyampaikan pemikiran alternatif dalam realitas praktis arsitektural yang faktual di sekitar. Tinggal di suatu wilayah yang padat rumah tetapi, sayangnya, tidak pernah diulas dengan bahasa arsitektur yang popular, bagaimana ini?

Aduh, kalau diteruskan, bisa lebih kencang tamparan mereka.  Salah saya di mana apabila saya belum juga menulis seputar dunia arsitektur, ya?

Jelas salah bahkan memakai kata “banget”, jawab mereka. Berani menulis ini-itu di luar profesi sendiri, kok malah takut menulis seputar bidang studi sendiri? Padahal di sekitar diri jelas terpampang kebopengan wajah arsitektur akibat kecenderungan melakukan pembiaran terhadap pemikiran para bukan arsitek yang sama sekali merancang tanpa kriteria mumpuni-relevansif untuk bangunan-bangunan di sekitar, terlebih rumah-rumah penduduk yang coreng-moreng dalam konsep perancangan dan wujudnya.

Sungguh, kawan-kawan saya itu tanpa tedeng-aling menampar saya bolak-balik. Saya tidak pernah menjadi asisten apalagi dosen Arsitektur. Saya tidak memiliki buku-buku teori Arsitektur yang memadai. Kalaupun ada, saya rasa, masih kurang optimal. Rekan-rekan arsitek, atau yang ketika mahasiswa sering menjadi asisten dosen Arsitektur, pun kini cenderung lebih sering berkutat dengan rancang-merancang, bukannya tulis-menulis seputar dunia arsitektur. Lha, mengapa harus saya, sih?

Biarkan saja mereka berkubang dalam garis-menggaris, begitu selanjutnya komplain kawan-kawan. Mereka lebih mementingkan garis aliran profit ke rekening daripada mementingkan kepekaan mewadahi seluruh komponen manusia tanpa terkontaminasi kepentingan profit yang sangat tidak arsitektural itu.

Terus terang, saya kewalahan menghadapi komplain kawan-kawan saya itu. Saya bisa saja melakukan komplain balik dengan menyebutkan nilai akademis dan status kelulusan dalam ijazah saya agar bisa menjadi bahan pertimbangan atas komplain-komplain lainnya. Saya bisa saja bertamengkan ijazah yang tanpa predikat “Cum Laude” itu, sementara lulusan terbaik pun hanya mendiamkan realitas di sekitar.

Biarkan saja para cumlauder dan lulusan terbaik itu sibuk dengan kepentingan mereka sendiri karena sejak kuliah pun mereka berusaha keras meraih nilai terbaik hanya demi prestasi diri mereka sendiri, bukannya demi kebaikan bertempat tinggal atau berfasilitas perwadahan optimal bagi seluruh lapisan masyarakat. Egoisitas kalangan cerdas semacam mereka merupakan upaya kontra-humanisme. Lagi-lagi begitu komplain kawan-kawan.

Saya menduga, komplain kawan-kawan sudah berkecenderungan sebagai penghakiman yang sewenang-wenang. Sebab, menurut dugaan saya, siapa pun sah-sah saja memiliki kepentingan pribadi di antara simpang-siur kepentingan banyak orang. Kawan-kawan tidaklah sepatutnya menuntut saya terlibat dalam silang-sengkarut kepentingan melalui penghakiman semacam itu.

Tidak perlulah menduga sampai ke ranah penghakiman ditimpa lagi dengan sewenang-wenang, komplain kawan-kawan lagi. Pembiaran para arsitek mumpuni bukanlah persoalan yang bersifat darurat untuk dipikirkan. Persoalannya adalah siapa lagi yang bisa memberi sedikit pencerahan.

Lho, kalau “siapa lagi”, ya, tentulah bukanlah cuma saya, ‘kan? Sebaiknya kawan-kawan lebih bersabar lagi untuk memberi kesempatan kepada para arsitek yang benar-benar cerdas, dan memiliki kualitas berpikir kritis jauh melampaui saya. Saya tidak memiliki prestasi apa-apa di bidang studi saya sendiri.

Nah ini, “tidak memiliki prestasi apa-apa”, tambah komplain kawan-kawan. Skripsi dan ijazah itu suatu prestasi. Selanjutnya, kesukaan menggauli tulisan pun tidak kunjung henti. Tetapi kembali lagi ke awal, kapan mulai menulis seputar dunia arsitektur. Buku-buku karya tunggal yang terbit malah tidak ada yang murni berisi arsitektur. Cerpen kurang greget, puisi cinta basi, esai sepele, bahkan gombal tidak karuan itu. Mana buku berisi tulisan seputar dunia arsitektur?

Baiklah, baiklah. Beri saya waktu untuk memulainya, meski entah berapa tahun lagi, karena saya akan terus memberi kesempatan rekan-rekan arsitek untuk memulainya dengan rajin dan benar-benar bisa dipahami oleh masyarakat umum. Sabar, ya, kawan-kawan?  

*******

Panggung Renung, 2016

Reklamasi Teluk Jakarta : Kenapa Ributnya Baru Sekarang

Ketika saya mengkritisi perihal Reklamasi Teluk Jakarta, baik melalui media sosial maupun tulisan ringan, beberapa orang ‘menyerang’ saya karena ‘menuduh’ saya ‘menyerang’ Gubernur Ahok calon petahana jelang Pilkada DKI Jakarta. Kenapa baru ribut sekarang; kenapa tidak sejak dulu.

Sebagian mereka pun mengira saya baru sekarang mengikuti perkembangan dunia politik atau apalah itu. Kenapa baru ribut sekarang; ke mana saja dulunya. Arsitek kok ngomongin politik; ikut arus politik bikinan politisi yang dijerat KPK.

Saya mengenal sebagian dari mereka, yang ‘menyerang’ saya, baik secara jujur-terang-terangan maupun diam-diam seolah para kecoak yang bergosip dalam kakus. Mayoritas mereka adalah orang muda (belum 60 tahun). Dan saya mengenal mereka bukanlah para pembelajar atau pembaca buku-buku politik, misalnya Dasar-dasar Ilmu Politik, Etika Politik, Ilmu Negara, Negara Modern, dan seterusnya, apalagi Di Bawah Bendera Revolusi yang tebal itu karena memang bukanlah bidang studi mereka ketika kuliah.

Saya ‘terpaksa’ memaklumi kapasitas mereka dan kemajuan teknologi masa kini. Dengan tanpa kepekaan mumpuni ketika membaca tulisan-tulisan saya, kecenderungan menuduh arah politik saya pun begitu menurut mereka. Makanya, pemikiran saya mengenai Reklamasi  Teluk Jakarta pun ‘digugat’ mereka secara serentak, “Kenapa baru sekarang; kenapa tidak sejak dulu.”

Kenapa baru sekarang; kenapa tidak sejak dulu. Ya, saya pun bisa membalikkannya, kenapa mereka baru sekarang mengikuti perkembangan politik, kenapa tidak sejak dulu.

Dulu, sebelum munculnya agresivitas teknologi mutakhir, mereka tenggelam entah di mana. Kenapa baru sekarang mereka muncul bahkan menyerang saya? Ya, karena sudah ‘kering’, dan ‘suara’ mereka renyah seperti kerupuk baru diangkat dari penggorengan. Kualitas ‘suara’ mereka sama dengan kerupuk juga.

Situasi tidak berbeda dengan pertanyaan sebagian orang. Kenapa menggusurnya baru sekarang; kenapa tidak sejak dulu. Kenapa sekarang melarang tinggal di Pasar Ikan; kenapa tidak dari dulu. Apa kira-kira jawabannya? Karena tanah Pemerintah, bukannya tanah milik siapa-siapa? Lho, dulunya ke mana, wong ya barusan koar-koarnya pernah menjadi wakil rakyat tingkat nasional?

Tetapi, menurut saya, kenapa sekarang dan kenapa tidak dulu, merupakan sebuah ‘gugatan’ yang tidak realistis alias tidak kekinian. Toh mereka juga dulu melempem kayak kerupuk tercebur di Teluk Jakarta. Ketika saya aktif bersosial-politik bersama kawan-kawan Fisip, toh para .penggugat’ itu masih aktif dengan diri mereka sendiri, misalnya hedonis-materialistis. Sebagian juga ternyata berlatar keluarga dari kroni ORBA, yang menikmati kemakmuran dari oportunitas politik ketika itu.

Sebagian dari mereka mencoba membuat sebuah tulisan semacam opini. Tetapi, sungguh menyedihkan. Lho, menyedihkan? Hal paling sepele pun tidak dikuasai! Apa itu? Perbedaan kata “di” sebagaimana fungsinya. Hal sepele saja tidak mampu dipahami, apalagi berpikir lagi soal reklamasi, lingkungan hidup, politik, kepentingan terselubung, trik-intrik politik, strategi, dan seterusnya.

Dulu waktu SD sibuk makan kerupuk ataukah tidak suka pelajaran Bahasa Indonesia, ya? Lha bagaimana kalau belajar lagi mengenai hal-hal yang bukan di bidangnya, misalnya membaca buku-buku politik? Sudah begitu kok nekat ‘menggugat’ saya, sih? Bahayanya kalau mereka ‘menggugat’ lagi, kenapa buaya tidak doyan kerupuk semacam mereka. Alamak!

Lebih parah lagi, sebagiannya hanya mampu melakukan salin-tempel (copy-paste). Tidak mampu menuliskan pemikiran memadai tetapi pamer dengan aktivitas salin-tempel. Padahal mereka sudah sarjana lho. Ah, sarjana macam apa itu kalau hanya mampu melakukan salin-tempel? Memalukan dunia pendidikan tinggi saja karena murid Sd pun sudah mampu melakukan salin-tempel. Begitu kok masih nekat ‘menyerang’ saya, sih?

Oleh karenanya, menurut saya, gugatan kaum pemikir kelas kerupuk pada kalimat ‘kenapa baru sekarang; kenapa tidak sejak dulu’, sangatlah tidak relevan untuk suatu situasi politik mutakhir apalagi ‘dipaksakan’ untuk ‘melawan’ pemikiran saya, meski saya tidak pernah berprestasi ketika SD sampai jadi sarjana. Tidak perlu juga menyamakannya dengan pertanyaan usang, “duluan mana antara ayam dan telur”. Lebih baik mereka makan kerupuk saja seperti dulu supaya ‘suara’ mereka bisa riuh-renyah pada situasi sekarang.

*******

Panggung Renung, 2016 

Berguna bagi Nusa dan Bangsa

Sangat lekat dalam ingatan saya, sebuah cita-cita yang secara umum dikumandangkan oleh sebagian kawan SD dulu. “Berguna bagi nusa dan bangsa”. Sering pula didoakan oleh sebagian orangtua, “Semoga anak ini berguna bagi nusa dan bangsa.”

Saya tidak pernah bercita-cita semacam itu. Pikiran mungil saya (ketika itu) tidak mampu membayangkan “nusa dan bangsa” karena saya belum memahami makna kata “nusa”, dan “bangsa”. Menjadi tukang gambar adalah cita-cita saya sewaktu SD.

Perjalanan hidup saya pernah tersangkut di Yogyakarta selama nyaris 18 tahun. Dan di Kota Budaya itulah saya belajar lebih jauh mengenai proses mewujudkan cita-cita,meski sempat sekitar 4 bulan mengasah kemampuan di Kota Kembang (Bandung) di bawah bimbingan Himpunan Mahasiswa Seni Rupa dan Disain Institut Teknologi Bandung.

Di Yogyakarta saya benar-benar menjadi “tukang gambar”. Kalau sebutan “tukang” merupakan sebuah profesi yang bergaji, 99% ketukangan saya sama sekali tidak bergaji sejak SMA dan di perguruan tinggi. Apakah itu merupakan makna sesungguhnya dari cita-cita sebagian kawan SD dulu–berguna bagi nusa dan bangsa? Entahlah.

Ya, entahlah. Yang jelas, 11 tahun di luar Yogyakarta saya masih sering mengalami “tidak bergaji” atau “tidak berbayar” alias “tukang gambar gratis”. Terakhir, menggarap mural (lukisan tembok) di lingkungan RT kami setelah Ketua RT mengajak saya untuk bergabung dalam kegiatan perlombaan RT tingkat Kotamadya Balikpapan.

Sejak 3 tahun ini saya memang sering terlibat dalam kegiatan di RT kami. Kegiatan 17 Agustusan merupakan hal yang ‘wajib’ saya ikuti sebagai warga negara Indonesia, dan warga di lingkungan RT kami. Tugas saya adalah membuat proposal 17 Agustusan beserta laporan pertanggungjawaban penggunaan anggaran seusai kegiatan.

Sementara ‘kewajiban’ saya lainnya adalah merancang Balai Taruna seluas 105 m2 (6 m x 17,5 m) sebagai seorang warga di lingkungan RT kami, dan arsitek setempat. Denah, tampak, potongan, gambar 3 dimensi, dan urutan pekerjaan, pada 2014 telah saya kerjakan sebagaimana kaidah arsitektural yang pernah saya pelajari.

Berapa rupiahkah saya dibayar, jika saya menjadi seperti umumnya seorang tukang? Kalau jasa minimalis kearsitekan saya adalah Rp25.000,00, total bayaran saya adalah Rp2.625.000,00. Tetapi saya tidak menerima serupiah pun karena saya mengambil posisi sebagai warga.

Apakah lantaran saya sudah kaya raya sehingga tidak mau menjadi tukang atau arsitek secara umum? Saya tidak memiliki sebuah mobil pun, jika sebuah mobil bisa dijadikan sebagai salah satu indikator sebuah taraf kekayaan. Tetapi mengapa, belum juga kaya raya, tetapi dengan lancar melepaskan “hak” senilai Rp2.625.000,00? 

Begitu pula dengan pembuatan mural pada 2016 pada sebuah tembok pagar SD Negeri 030, yang berbatasan langsung dengan salah satu jalan masuk RT. Panjangnya sekitar 40 m, dan tingginya rata-rata 2 m. Jadi luasnya sekitar 80 m2. Ketua RT meminta saya membuat mural di situ dengan modal cat dan uang Rp200.000,00 (untuk membeli keperluan semisal alat kerja) dari beliau.

Saya sanggupi tanpa perlu repot berhitung 80 m2 dikali harga jasa seorang “tukang gambar” berijazah “Sarjana Tenik” per m2 seperti yang pernah saya lakukan pada dinding beberapa TK. Atau, kalau mau sedikit repot berhitung, 80 x Rp150.000,00, alias Rp12.000.000,00. Saya pun tidak suka merepotkan siapa-siapa untuk berhitung.

Lagi-lagi, setelah melepaskan “hak” atas rancangan arsitektural senilai total Rp2.625.000,00 dilanjutkan dengan “hak” atas mural berijazah “Sarjana Teknik” senilai total Rp.12.000.000,00. Total “hak” yang saya “lepaskan” untuk lingkungan RT kami adalah Rp14.625.000,00.

Angka Rp.14.625.000,00, tentu saja, bukanlah angka yang sepele, apalagi apabila angka tersebut merasuk seutuhnya dalam pikiran para tukang (para pekerja) di RT kami, yang diam-diam melestarikan slogan “waktu adalah uang”, “ijazah pendidikan tinggi bernilai tinggi”, dan “setiap keahlian ada hitungan upahnya”. Sebagian warga sudah menanyakan kepada Ketua RT kami, berapa rupiahkah saya dibayar.

Barangkali bagi kebanyakan orang di RT kami, “hak” yang saya “lepaskan” merupakan suatu kegilaan dalam stadium empat. Mereka melihat keseharian saya yang tidak pernah berpakaian parlente, ngobrol soal proyek milyaran rupiah, dan tidak memiliki sebuah mobil pun alias tidak sekaya tetangga kanan-kiri rumah saya.

Mereka pun bisa melihat, bagaimana saya seorang diri membuat mural dengan khusyuk dan masyuk di tembok SD itu hingga, terkadang, tengah malam diterangi lampu jalan. Ya, pada saat mereka pulang dari pekerjaan, hendak berkumpul dengan keluarga, lalu menikmati makan malam, bersantai sambil membayangkan gaji bulanan atau keuntungan dari setiap proyek, saya masih setia menghias tembok SD dengan kuas dan cat di tebing setinggi 2 m tanpa pernah ada nilai materi sebagai “hak” saya.

Mereka mengetahui, dengan tetap melakukan apa yang “wajib” saya lakukan tetapi begitu saja “melepaskan” apa yang menjadi “hak” saya. Tetapi, saya yakin, mereka tidak akan pernah mengetahui apa yang ada dalam pikiran saya pada saat saya memahami apa yang sesungguhnya dalam pikiran mereka. Ya, saya yakin, karena sewaktu-waktu saya harus pulang untuk mandi dan minum kopi agar bisa kembali segar, dan melanjutkan kegiatan mural itu.

Setiap saya merenung di Panggung Renung, sebagian renungan itu selalu berbalik ke masa-masa proses pendidikan saya, terutama sejak masih SD di Sungailiat karena di sanalah saya selalu terbuai haru. Tentu saja semua proses bahkan bukti otentik berupa selembar ijazah sarjana tidaklah gratis, terlebih kini saya menetap di sebuah kota yang sangat hedonis-materialistis.

Tetapi, entah mengapa, saya selalu menjalani “ritual” pribadi yang tidak akan pernah mampu dipahami oleh siapa pun, termasuk oleh diri saya sendiri, pada saat sebagian kawan sekolah saya dulu telah menjalani “ritual” yang “berbayar”. Saya tidak suka menghidupi iri hati, melainkan selalu saja heran melihat realitas semacam ini. Mungkin cita-cita mereka dulu–berguna bagi nusa dan bangsa–justru merasuki kehidupan saya entah sampai kapan.  

*******

Panggung Renung, Mei 2016

Kegemukan itu Mengerikan

Tinggi 160 dan berat 80, atau tinggi 170 dan berat 90, boleh dikategorikan gendut. Gemuk banget, gembrot, gendut, buncit, tambun, “gajah bengkak”, dan sejenis kelebihan berat badan yang jauh melampaui angka wajar atau malah obesitas adalah suatu kondisi fisik yang dialami oleh sebagian orang.

Sebagian orang yang mengalami hal fisik demikian cenderung selalu ngeri bahkan panik melihat dirinya sendiri di depan cermin, kaca-kaca raksasa pada bangunan-bangunan moderen, dan penimbang badan.  Tidak jarang benda-benda itu bisa divonis sebagai musuh bebuyutan bagi kalangan ini.

Kalangan pengidap kelebihan berat badan ini pun mendadak mengalami sensitivitas melampaui batas kewajaran apabila ada obrolan ‘agak miring’ mengenai hal fisikal sekitar itu. Lantas, jangankan benda-benda tertentu yang digolongkan sebagai ‘musuh’, iklan-iklan yang menayangkan tubuh ramping-langsing atau orang-orang di sekitar–apalagi yang ramping-langsing pun–diam -diam dijerumuskan ke daftar musuh bebuyutan.

Ironisnya, sensitivitas rivalisme pun berbanding lurus sensitivitas lidah (nafsu makan). Belum selesai “bmemusuhi”, diperkeruh lagi dengan keinginan makan melampaui batas setelah menyaksikan penayangan berita, iklan, atau perjalanan dengan sebutan “wisata kuliner” yang belum pernah dilakoni.

Sudah begitu, masih ditambah dengan faktor kemalasan. Malas berolah raga; malas mengekang lidah-mulut; malas mendisiplinkan diri; malas menghitung asupan kalori; dan kemalasan-kemalasan lainnya. Ironisnya, kemalasan yang berlemak-lemak ini selalu ‘dibentengi’ dengan slogan “yang penting sehat”.

Sebenarnya tidaklah sehat, minimal sehat kejiwaan. Sensitivitas yang over dosis, misalnya memusuhi benda-benda tertentu, bukanlah suatu relevansivitas terhadap kata “sehat” yang sesungguhnya. Sensitivitas lidah-mulut terhadap makanan berkalori tinggi pun bukanlah suatu relevansivitas terhadap kata “sehat” yang sesungguhnya. Hal tersebut justru sebaliknya : tidak sehat jiwani-ragawi.

Kelebihan berat badan melampaui batas kewajaran, diakui atau tidak, merupakan sebuah kegagalan dalam pengendalian diri (nafsu makan; rayuan lidah). Untuk bisa sampai pada taraf “pengendalian diri”, seorang gembrot harus menyadari bahwa gembrot itu justru membuat dirinya sendiri sangat tidak menarik. Artinya, dia harus berdamai dengan dirinya sendiri melalui kesadaran atas fisiknya sendiri. Dengan kesadaran ini dia bisa berpikir, bagaimana supaya dirinya pun tertarik melihat dirinya sendiri.

Sadar pula bahwa tubuh bukanlah tempat sampah. Semua makanan boleh dimakan tetapi tidak semua harus dimakan apalagi sampai habis.

Setelah itu, mau-tidak mau, kesadaran akan beranjak ke tahap antisipasif dirinya terhadap ketidaktertarikan pada dirinya sendiri. Dengan apa, kalau bukan dengan pengendalian diri. Kesadaran memudahkan proses pengendalian diri.  Pengendalian diri akan memudahkan untuk mengekang selera rakus yang cenderung gagal urus.

Begitu saja kira-kira.

*******
Panggung Renung, 2016

Senin, 30 Mei 2016

Ngopo Neng Kamar Wae

Ketika saya masih berstatus mahasiswa di Yogyakarta, dan asyik membolak-balik majalah, seorang kawan sebelah kamar kos berkali-kali mengajak saya pergi ke sebuah tempat hiburan. “Ngopo neng kamar wae? Ayo melu neng *****. Aku bayari. Beres pokoke,” katanya dengan aksen Jawa-Semarang yang kental, dan gemar berkelana ke tempat-tempat hiburan di Yogyakarta seperti halnya ketika masih di Semarang.

Semasa berstatus mahasiswa, saya selalu memiliki waktu untuk sendiri di kamar kos, bersama kawan-kawan se-indekosan, atau berkegiatan di pers mahasiswa tingkat fakultas, bahkan kemudian tingkat universitas. Pada saat seorang diri dalam kamar kos, saya pun selalu memanfaatkan waktu untuk ‘mendalami’ hal-hal yang tidak pernah ada dalam bidang studi saya. Situasi semacam ini tentu saja bisa diamati oleh rekan indekosan kami sehingga wajar jika seorang kawan ngotot mengajak saya berkelana ke tempat hiburan.

Saya memang ‘gila’ belajar beberapa hal di luar bidang studi saya sebagai mahasiswa jurusan (kini program studi) Arsitektur. Dunia gambar-menggambar adalah awal yang saya tekuni sejak balita. Yogyakarta membuka kesempatan lebih luas bagi saya, termasuk aktif di majalah sekolah ketika berstatus pelajar SMA, dan majalah kampus ketika berstatus mahasiswa. Juga mendalami bidang gambar-menggambar (seni rupa) di Bandung selama tiga bulan non-stop.

Lalu dunia tulis-menulis, yang tentunya ketika aktif di majalah sekolah dan kampus. Selain itu, saya rajin mengikuti seminar, bahkan sekadar ngobrol dalam forum non-formal dengan tokoh-tokoh tertentu, termasuk tokoh nasional yang tengah ‘dikucilkan’ oleh rezim ORBA. Tentu saja, meski jumlah uang bulanan dari orangtua tidak banyak (jauh dibanding kawan kos saya itu sehingga dia berani “membayari” saya untuk menemaninya ke dunia hiburan), saya rutin membeli majalah dengan harga mahasiswa di kampus supaya bisa mengikuti ‘pembicaraan’ mengenai perkembangan dunia sosial-politik ketika itu.

Kemudian, untuk menguji tingkat kemampuan pembelajaran saya, beberapa perlombaan pun saya ikuti. Lomba kartun opini, karikatur, gambar kaus oblong, menulis cerpen, opini, esai, dan lain-lain. Sementara kawan saya itu tekun menikmati dunia hiburan hingga pernah ditangkap polisi gara-gara benda semacam narkoba, bahkan akhirnya pikirannya tidak mampu menyelesaikan kuliahnya.

Ketika bukan lagi seorang mahasiswa, saya masih setia dengan apa yang pernah saya tekuni. Tentu saja, menjadi seorang arsitek sungguhan merupakan kesadaran saya, sekaligus menjadi anggota dalam organisasi keprofesian saya. Bagi saya, menjadi arsitek tetaplah nomor satu dan utama. Sedangkan menjadi kartunis-karikaturis, ilustrator, apalagi penulis-sastrawan, bukanlah profesi ‘lain’ yang perlu saya tekuni sampai habis-habisan rambut saya.

Mungkin, kalau bertemu lagi dengan kawan saya, dia bisa berujar, “Ngopo dadi arsitek wae? Mbok yao bisnis hiburan malam utawa narkoba, iso luwih sugih meneh.” Semoga kelak bertemu di suatu tempat hiburan di Semarang, kalau saya sudah kaya-raya dan suka berfoya-foya.  

*******
Panggung Renung, 2016