Rabu, 01 Juni 2016

Menulis Seputar Dunia Arsitektur

Saya pernah, beberapa kali, dikomplain oleh sebagian kawan, bahwasannya saya belum benar-benar menulis seputar dunia arsitektur, minimal arsitektur di sekitar (terdekat) saya. Selama ini, komplain mereka, saya hanya berputar-putar di sekitar pusar, eh, sekitar dunia luar arsitektur, padahal banyak bangunan di sekitar saya mampu memberi inspirasi kepenulisan. 

Kalau sudah begitu, pasti saya langsung mengalami kesulitan berkilah. Komplain mereka telak menampar saya. Gawat tenan iki!

Diam-diam saya berpikir, bagaimana kalau komplain tersebut ditujukan kepada para dosen arsitektur sehingga bisa lebih jelas-jeli bahan rujukannya, dapat dipertanggungjawabkan secara teoritis, dan sesuai dengan sebutan “problem solver” dalam arsitektur praktis. Saya pikir, pikiran saya tidaklah keliru sasaran.

Diam-diam mereka pun berpikir bahwa pikiran saya keliru jika merupakan sebuah upaya melarikan diri dari kenyataan nan tantangan. Meski bukan dosen, seorang arsitek sebagai praktisi seharusnya mampu menyampaikan pemikiran alternatif dalam realitas praktis arsitektural yang faktual di sekitar. Tinggal di suatu wilayah yang padat rumah tetapi, sayangnya, tidak pernah diulas dengan bahasa arsitektur yang popular, bagaimana ini?

Aduh, kalau diteruskan, bisa lebih kencang tamparan mereka.  Salah saya di mana apabila saya belum juga menulis seputar dunia arsitektur, ya?

Jelas salah bahkan memakai kata “banget”, jawab mereka. Berani menulis ini-itu di luar profesi sendiri, kok malah takut menulis seputar bidang studi sendiri? Padahal di sekitar diri jelas terpampang kebopengan wajah arsitektur akibat kecenderungan melakukan pembiaran terhadap pemikiran para bukan arsitek yang sama sekali merancang tanpa kriteria mumpuni-relevansif untuk bangunan-bangunan di sekitar, terlebih rumah-rumah penduduk yang coreng-moreng dalam konsep perancangan dan wujudnya.

Sungguh, kawan-kawan saya itu tanpa tedeng-aling menampar saya bolak-balik. Saya tidak pernah menjadi asisten apalagi dosen Arsitektur. Saya tidak memiliki buku-buku teori Arsitektur yang memadai. Kalaupun ada, saya rasa, masih kurang optimal. Rekan-rekan arsitek, atau yang ketika mahasiswa sering menjadi asisten dosen Arsitektur, pun kini cenderung lebih sering berkutat dengan rancang-merancang, bukannya tulis-menulis seputar dunia arsitektur. Lha, mengapa harus saya, sih?

Biarkan saja mereka berkubang dalam garis-menggaris, begitu selanjutnya komplain kawan-kawan. Mereka lebih mementingkan garis aliran profit ke rekening daripada mementingkan kepekaan mewadahi seluruh komponen manusia tanpa terkontaminasi kepentingan profit yang sangat tidak arsitektural itu.

Terus terang, saya kewalahan menghadapi komplain kawan-kawan saya itu. Saya bisa saja melakukan komplain balik dengan menyebutkan nilai akademis dan status kelulusan dalam ijazah saya agar bisa menjadi bahan pertimbangan atas komplain-komplain lainnya. Saya bisa saja bertamengkan ijazah yang tanpa predikat “Cum Laude” itu, sementara lulusan terbaik pun hanya mendiamkan realitas di sekitar.

Biarkan saja para cumlauder dan lulusan terbaik itu sibuk dengan kepentingan mereka sendiri karena sejak kuliah pun mereka berusaha keras meraih nilai terbaik hanya demi prestasi diri mereka sendiri, bukannya demi kebaikan bertempat tinggal atau berfasilitas perwadahan optimal bagi seluruh lapisan masyarakat. Egoisitas kalangan cerdas semacam mereka merupakan upaya kontra-humanisme. Lagi-lagi begitu komplain kawan-kawan.

Saya menduga, komplain kawan-kawan sudah berkecenderungan sebagai penghakiman yang sewenang-wenang. Sebab, menurut dugaan saya, siapa pun sah-sah saja memiliki kepentingan pribadi di antara simpang-siur kepentingan banyak orang. Kawan-kawan tidaklah sepatutnya menuntut saya terlibat dalam silang-sengkarut kepentingan melalui penghakiman semacam itu.

Tidak perlulah menduga sampai ke ranah penghakiman ditimpa lagi dengan sewenang-wenang, komplain kawan-kawan lagi. Pembiaran para arsitek mumpuni bukanlah persoalan yang bersifat darurat untuk dipikirkan. Persoalannya adalah siapa lagi yang bisa memberi sedikit pencerahan.

Lho, kalau “siapa lagi”, ya, tentulah bukanlah cuma saya, ‘kan? Sebaiknya kawan-kawan lebih bersabar lagi untuk memberi kesempatan kepada para arsitek yang benar-benar cerdas, dan memiliki kualitas berpikir kritis jauh melampaui saya. Saya tidak memiliki prestasi apa-apa di bidang studi saya sendiri.

Nah ini, “tidak memiliki prestasi apa-apa”, tambah komplain kawan-kawan. Skripsi dan ijazah itu suatu prestasi. Selanjutnya, kesukaan menggauli tulisan pun tidak kunjung henti. Tetapi kembali lagi ke awal, kapan mulai menulis seputar dunia arsitektur. Buku-buku karya tunggal yang terbit malah tidak ada yang murni berisi arsitektur. Cerpen kurang greget, puisi cinta basi, esai sepele, bahkan gombal tidak karuan itu. Mana buku berisi tulisan seputar dunia arsitektur?

Baiklah, baiklah. Beri saya waktu untuk memulainya, meski entah berapa tahun lagi, karena saya akan terus memberi kesempatan rekan-rekan arsitek untuk memulainya dengan rajin dan benar-benar bisa dipahami oleh masyarakat umum. Sabar, ya, kawan-kawan?  

*******

Panggung Renung, 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar