Kamis, 09 Juni 2016

Menghapus 1.400-an Teman di Media Sosial

Akhir Mei 2016 saya menghapus sekitar 1.400-an teman di salah satu akun media sosial (FB) saya. Hal ini saya lakukan setelah melihat realitas yang tidak memberi ‘sesuatu’ yang berguna bagi saya.

Tidak berguna? Maksudnya?

Pertama, postingan yang hedonis, misalnya tamasya, makan di mana, dan lain-lain, berupa foto-foto. Hal yang paling tidak berguna adalah ketika postingan tersebut dilakukan oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi. Bagi saya, hal semacam itu sama sekali sebagai ungkapan kebodohan belaka, alias sama saja dengan kalangan yang sama sekali tidak pernah bersekolah tinggi.

Kedua, berkaitan dengan pertama, kegemaran memamerkan kebodohan yang mengamburkan uang tanpa sebuah ulasan intelektual merupakan ‘penghinaan’ bagi saya yang selalu berusaha memanfaatkan segala sesuatu menjadi semacam tulisan sebagai rekaman sekaligus tanggapan saya. Pengalaman hedonisme mereka sekadar pamer kelas sosial-ekonomi. Kaya tapi bodoh tapi bergelar sarjana. Alangkah celakanya!

Ketiga, orang-orang kaya dengan segala pameran harta-benda dan perilaku hedonisme tetapi tidak mau membeli buku saya. Kaya tetapi pelit. Bergelar sarjana, katanya suka membaca, tetapi tidak sudi membeli buku saya yang harganya tidak akan membuat mereka bangkrut. Kalau mereka mengira harta dan hedonisme mereka lebih berguna, ya, silakan saja berteman dengan sesama mereka.

Keempat, mereka tidak menanggapi postingan tulisan apalagi catatan-catatan saya. Mereka sibuk memamerkan kelas sosial-ekonomi tetapi tidak kritis terhadap situasi sosial-politik terkini.

Kelima, ketiadaan komunikasi interaktif dalam pertemanan antara mereka dan saya melalui komentar pada status saya. Saya yang selalu mengomentari postingan mereka tetapi mereka tidak pernah mau mengomentari postingan saya.

Keenam, ketiadaan komunikasi secara verbal (langsung). Secara pribadi saya tidak pernah berkenalan dengan mereka, apalagi ternyata mereka para pedagang online.

Ketujuh, ada pula yang berkecenderungan menghina secara verbal dan sama sekali tidak mampu menampilkan suatu kebermutuan dalam penelaahan intelektual. Kalangan satu ini memiliki semacam kaitan perkoncoan (suka main keroyok) yang hanya menjadi batu sandungan bagi proses kreativitas saya.

Kedelapan, sebagian mereka tidak kritis, khususnya mengenai seorang Ahok, yang ternyata telah menjadi tuhan yang sembah-bela habis-habisan.   

Begitulah, delapan alasan saya menghapus pertemanan dengan sekitar 1.400-an teman di media sosial. Ketika saya melihat bahwa postingan atau karya saya tidak membuat mereka tertarik, saya pun bisa berkesimpulan bahwa apalah guna pertamanan apabila sama sekali tidak ada yang menarik apalagi mencerahkan. Lebih baik saya hapus saja daripada hanya menyampahi beranda akun media sosial saya.

*******

Panggung Renung, Juni 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar