Akhir Mei 2016 saya
menghapus sekitar 1.400-an teman di salah satu akun media sosial (FB) saya. Hal ini saya lakukan setelah melihat
realitas yang tidak memberi ‘sesuatu’ yang berguna bagi saya.
Tidak berguna? Maksudnya?
Pertama, postingan yang hedonis,
misalnya tamasya, makan di mana, dan lain-lain, berupa foto-foto. Hal yang
paling tidak berguna adalah ketika postingan tersebut dilakukan oleh
orang-orang yang berpendidikan tinggi. Bagi saya, hal semacam itu sama sekali
sebagai ungkapan kebodohan belaka, alias sama saja dengan kalangan yang sama
sekali tidak pernah bersekolah tinggi.
Kedua, berkaitan dengan pertama, kegemaran memamerkan kebodohan yang
mengamburkan uang tanpa sebuah ulasan intelektual merupakan ‘penghinaan’ bagi
saya yang selalu berusaha memanfaatkan segala sesuatu menjadi semacam tulisan
sebagai rekaman sekaligus tanggapan saya. Pengalaman hedonisme mereka sekadar
pamer kelas sosial-ekonomi. Kaya tapi bodoh tapi bergelar sarjana. Alangkah celakanya!
Ketiga, orang-orang kaya dengan segala pameran harta-benda dan perilaku
hedonisme tetapi tidak mau membeli buku saya. Kaya tetapi pelit. Bergelar
sarjana, katanya suka membaca, tetapi tidak sudi membeli buku saya yang
harganya tidak akan membuat mereka bangkrut. Kalau mereka mengira harta dan
hedonisme mereka lebih berguna, ya, silakan saja berteman dengan sesama mereka.
Keempat, mereka tidak menanggapi postingan
tulisan apalagi catatan-catatan saya. Mereka sibuk memamerkan kelas
sosial-ekonomi tetapi tidak kritis terhadap situasi sosial-politik terkini.
Kelima, ketiadaan komunikasi interaktif dalam pertemanan antara mereka dan
saya melalui komentar pada status saya. Saya yang selalu mengomentari postingan mereka tetapi mereka tidak
pernah mau mengomentari postingan
saya.
Keenam, ketiadaan komunikasi secara verbal (langsung). Secara pribadi saya
tidak pernah berkenalan dengan mereka, apalagi ternyata mereka para pedagang online.
Ketujuh, ada pula yang berkecenderungan menghina secara verbal dan sama sekali
tidak mampu menampilkan suatu kebermutuan dalam penelaahan intelektual.
Kalangan satu ini memiliki semacam kaitan perkoncoan (suka main keroyok) yang
hanya menjadi batu sandungan bagi proses kreativitas saya.
Kedelapan, sebagian mereka tidak kritis, khususnya mengenai seorang Ahok, yang
ternyata telah menjadi tuhan yang sembah-bela habis-habisan.
Begitulah, delapan
alasan saya menghapus pertemanan dengan sekitar 1.400-an teman di media sosial.
Ketika saya melihat bahwa postingan
atau karya saya tidak membuat mereka tertarik, saya pun bisa berkesimpulan
bahwa apalah guna pertamanan apabila sama sekali tidak ada yang menarik apalagi
mencerahkan. Lebih baik saya hapus saja daripada hanya menyampahi beranda akun media sosial saya.
*******
Panggung Renung,
Juni 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar